Peribahasa Indonesia

  1. Berdiang di abu dingin. Mengharapkan pertolongan kepada orang lemah.
  2. Kalah jadi abu menang jadi arang. Yang kalah dan yang menang sama-sama rugi, sama-sama rusak.
  3. Seperti abu di atas unggul. Kedudukan yang tidak kuat.
  4. Sudah jadi abu arang. Telah rusak sama sekali (tak dapat diperbaiki lagi).
  5. Telentang sama makan abu, tertelungkup sama makan tanah. Sama-sama setia dalam suka dan duka, seia sekata.
  6. Terpegang di abu hangat. Orang yang kecewa dalam suatu pekerjaan, baru saja dimulai mendapatkan kesusahan.
  7. Gila di abun-abun. Mabuk berkhayal, mengangankan sesuatu yang tak mungkin diperoleh.
  8. Asal ada, kecilpun pada. Walaupun hanya sedikit, cukup juga.
  9. Ada padang ada belalang. Di mana pun berada, selalu ada rezeki.
  10. Ada gula ada semut. Orang akan berdatangan ke tempat yang menyenangkan.
  11. Ada batang, ada cendawan, ada cendawan tumbuh. Di mana kita berada, selalu ada rezeki.
  12. Ada air ada ikan. Di mana pun kita berada, niscaya ada rezeki.
  13. Ada asap ada api. Ada sebab tentu ada akibatnya.
  14. Ada sama dimakan, tak ada sama ditahan. Susah dan senang ditanggung bersama.
  15. Ada ubi ada talas, ada budi ada balas. Setiap perbuatan baik selalu ada ganjaran kebaikannya.
  16. Ada uang abang disayang, tak ada uang abang melayang. Hanya mau senang (enaknya) saja.
  17. Ada udang di balik batu. Mempunyai maksud tersembunyi, biasanya maksud yang picik.
  18. Ada hujan ada panas. Segala sesuatu diciptakan Tuhan secara berpasang-pasangan.
  19. Ketika ada jangan dimakan, telah habis baru dimakan. Memiliki simpanan yang bisa digunakan bila tidak ada penghasilan tetap lagi.
  20. Kalau tidak berada-ada takkan tempua bersarang rendah. Ada maksud tersembunyi pada seseorang yang berperilaku tidak seperti biasanya.
  21. Adat penghulu berpadang luas beralam palang. Seorang pemimpin itu harus sabar, banyak pertimbangan, sertya arif dan bijaksana.
  22. Adat periuk berkerak, adat lesung berdedak. Sesuatu itu ada yang rusak atau kurang mutunya.
  23. Adat pasang berturun naik. Tiada yang tetap di dunia ini, semua hidup silih berganti, terutama tentang nasib, rezeki, dan peruntungan seseorang.
  24. Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Setiap melakukan sesuatu hendaklah selalu mengingat aturan adat dan agama.
  25. Adat juara kalah menang, adat saudagar laba rugi. Suda adat dunia atau sudah menjadi kodrat alam, susah senang, untung rugi, datang silih berganti dialami umat manusia.
  26. Adat lama pusaka usang. Sudah sejak dulunya, sejak nenek moyang.
  27. Adat muda menanggung rindu, adat tua menahan ragam. Yang tua ataupun yang muda, harus bersabar menghadapi sesuatu.
  28. Adat ayam ke lesung, adat itik ke pelimbahan. Sesuatu itu akan berjalan sesuai kodratnya.
  29. Adat sepanjang jala, cupak sepanjang betung. Menipu atau menutupi keadaan yang  sebenarnya.
  30. Adat teluk timbunan kapal, adat muara puputan ikan. Sudah sepantasnya kaya tempat meminta dan orang pintar serta berpengalaman tempat bertanya.
  31. Adat tua menanggung ragam. Orangtua harus bersabar dalam menanggung berbagai masalah.
  32. Adat dipakai baru pusaka dipakai usang. Adat pada negeri dan suku manapun, tidak dimakan zaman, sedangkan harta bila dipakai, lama kelamaan menjadi habis.
  33. Adat diisi lembaga dituang. Mengerjakan sesuatu hendaknya menurut lazimnya atau menurut apa yang sudah dibiasakan dan apa yang sudah diadatkan.
  34. Adat dunia balas membalas. Perbuatan baik akan mendapat ganjaran kebaikan dan perbuatan buruk akan menerima ganjaran keburukan.
  35. Adat hidup tolong-menolong, adat mati jenguk-menjenguk. Dalam hidup harus bergaul dan bermasyarakat, saling tolong menolong dan jenguk menjenguk kala susah dan senang.
  36. Tegak adat berpagar adat, tegak suku berpagar suku, tegak kampung berpagar kampung, tegak negeri berpagar negeri. Orang akan bersatu, berpihak, atau membela kepentingan dan harga dirinya atau sesuai dari sudut mana kepentingan dan harga dirinya diserang.
  37. Di mana adat diisi, di situ lembaga dituang. Di mana pun kita berdiam, kita harus menghormati adat istiadat dan kebiasaan di dalamnya.
  38. Hidup dikandung adat, mati dikandung tanah. Sesuatu itu tidak ada yang tetap.
  39. Habis adat karena berkerelahan. Meskipun segala persyaratan tidak terpenuhi seluruhnya, suatu maksud dapat dilakukan asal saling berkerelahan (merelakan).
  40. Mengadu petah lidah. Mengadu kemahiran berdebat.
  41. Mengadu ujung penjahit. Sangat sulit untuk menyatukan pikiran para cendekiawan.
  42. Lain yang digagak, lain yang kena. Yang dimaksudkan berlainan dengan yang didapat.
  43. Bermain air basah bermain api letup. Setiap perbuatan atau pekerjaan selalu mengandung risiko.
  44. Berair sawah di atas, lembab sawah di bawah. Bila berhasil membantu teman atau atasan dalam mencari rezeki, tentulah orang yang membantunya ikut mendapatkan rezeki juga.
  45. Bagai air di daun keladi. Ajaran atau nasihat yang baik tak berguna bagi mereka yang tidak mau menerimanya.
  46. Bagai air di daun talas. Selalu berubah-ubah.
  47. Bakarlah air minum abunya. Ejekan atau sindiran kepada orang yang mau mengharapkan sesuatu yang tak mungkin diperolehnya.
  48. Bondong air bondong dedak. Setiap orang akan menurut kepada pembesar atau pemimpinnya.
  49. Bukan air muara yang ditimba, sudah disauk dari hulunya. Bukan kabar angin, tetapi kabar dari sumbernya.
  50. Ibarat menyurat di atas air. Pekerjaan yang sia-sia.
  51. Jelatang di hulu air. Perihal orang yang suka memfitnah atau mencari kerusuhan.
  52. Jatuh ke dalam air mata. Bersedih hati sendiri, tiada orang yang tahu.
  53. Membasuh muka dengan air liur. Perihal orang yang berusaha untuk memperbaiki kesalahannya dengan memperbesar dosanya.
  54. Memancing di air keruh. Menggunakan kesempatan dalam kesempitan.
  55. Mengairi sawah orang. Mengerjakan sesuatu yang menguntungkan orang lain.
  56. Mengadu air dengan garam. Perihal orang beristri dua, lebih mengasihi istri mudanya daripada istri tuanya, tetapi tidak ada bukti tentang kasih sayang padanya. Jadi, seperti garam itu akan hilang bila berada di dalam air.
  57. Menepuk air didulang. Membuka aib sendiri.
  58. Menanjakkan air ke bukit. Mengerjakan pekerjaan yang mustahil akan berhasil.
  59. Merajukkan air di ruang, hendak karam ditimba jua. Marah kepada orang yang kita kasihi, tetapi merasa tidak tega bila dia hendak susah atau celaka.
  60. Air beriak tanda tak dalam. Orang yang banyak bicara dan sombong biasanya tak berilmu.
  61. Air besar batu bersibak. Bila mendapatkan bahaya besar, orang akan mencari kaum, golongan, atau bangsanya.
  62. Air jernih ikannya banyak. Semua serba menyenangkan. Diibaratkan pada sebuah negeri yang rakyatnya makmur dan negerinya aman dan permai.
  63. Air laut itu ada pasang ada surut. Dalam kehidupan adakalanya susah adakalanya senang.
  64. Air mudik, semua teluk diranai. Orang yang boros, tidak pernah memperhitungkan apa yang dibelinya, apa yang kelihatan berguna atau kurang berguna pun dibelinya.
  65. Air orang disauk, ranting dipatah, adat orang diturut.
  66. Di manapun berada, hendaklah menuruti adat-istiadat dan kebiasaan yang berlaku di negeri tersebut.
  67. Air sama air kelak jadi satu, sampai itu ke tepi jua. Bila terjadi perselisihan antara orang bersaudara yang dicampuri oleh pihak ketiga, maka kelak orang yang bersaudara itu berbaikan kembali, sedangkan pihak ketiga hanya akan mendapat malu.
  68. Air susu dibalas air tuba. Kebaikan dibalas dengan kejahatan.
  69. Air tenang menghanyutkan. Orang yang pendiam biasanya memiliki banyak pengetahuan.
  70. Air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam. Terlalu bersedih karena sesuatu yang sangat menyakitkan hati.
  71. Air dingin juga dapat memadamkan api. Kelemahlembutan dan kata-kata halus dapat meredam kemarahan yang sangat besar.
  72. Ada air ada ikan. Setiap negeri tempat kita tinggal selalu terdapat rezeki. Setiap negeri atau kampung itu memiliki adat.
  73. Adakah dari telaga yang jernih mengalir air yang keruh? Mungkinkah dari turunan baik-baik itu akan menjadi jahat atau hina?
  74. Kalau air keruh di hulu sampai ke muara keruh juga. Kalau permulaannya sudah dimulai dengan kekusutan, sampai akhirnya pun akan kusut juga.
  75. Kami sepatun air didih, nasi masak badan terbuang. Keluhan dari seseorang yang telah berbuat jasa, yang telah tidak dipedulikan lagi.
  76. Rasan air ke air, rasan minyak ke minyak. Mencari kaum atau bangsanya sendiri-sendiri.
  77. Orang haus diberi air, orang lapar diberi makan. Memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkannya.
  78. Seperti air pembasuh kaki. Perihal sesuatu yang dianggap murah.
  79. Seperti air di dalam kolam. Tenang pembawaannya, tetapi berilmu.
  80. Selama air hilir, selama gagak hitam. Kiasan untuk suatu hal yang berlaku selama-lamanya. Misalnya atas sumpah orang terhadap sesuatu.
  81. Sekali air pasang, sekali tepian beranjak; sekali air dalam, sekali pasir berubah. Tiap kali berubah pimpinannya, berubah pula aturannya.
  82. Sambil menyelam minum air. Sambil mengerjakan pekerjaan yang satu, terselesaikan pula pekerjaan yang lain.
  83. Tiada air sungai mengalir ke hulu. Seorang anak tidak akan dapat membalas pengorbanan yang telah dilakukan oleh orangtua.
  84. Tidak membesarkan air. Tidak bisa berbuat apa-apa; tidak ada yang bisa melakukannya.
  85. Terbit air karena dipecik, terbit minyak karena dikempa. Menerima atau mengerjakan suatu pekerjaan karena dipaksa.
  86. Terseberang di air pasang. Terpelihara atau selamat dari bahaya besar.
  87. Tambah air tambah sagu. Tambah banyak permintaannya, bertambah pula biayanya.
  88. Tak air peluh diurut, tak air talang dipancung. Melakukan segala sesuatu untuk mencapai tujuan.
  89. Cencang air tak putus. Orang bersaudara tidak mungkin diputuskan hubungannya. Meskipun berselisih, pasti akan berakhir dengan damai.
  90. Umpama air digenggam yang tidak tiris. Sindiran untuk orang yang kikir/pelit.
  91. Hendak air pancuran terbit. Mendapatkan sesuatu melebihi apa yang diinginkan.
  92. Harap hujan di langit, air di tempayan ditumpahkan. Mengharapkan sesuatu yang belum pasti, yang sudah dimiliki malah lepas.
  93. Sebelum ajal berpantang mati. Bila ajal sudah tiba, tidak ada seorang pun dapat menolaknya dan bila ajal belum tiba waktunya, bagaimanapun seseorang itu takkan mati.
  94. Belajar ke yang pintar, berguru ke yang pandai. Menuntut ilmu lebih baik kepada orang berilmu pengetahuan dan kaya pengalaman.
  95. Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi. Pekerjaan yang dilakukan dengan tanggung-tanggung atau setengah-setenga tidak akan mencapai hasil yang baik.
  96. Itik diajar berenang. Mengajar orang yang memiliki lebih banyak pengalaman.
  97. Kurang tunjuk kurang pengajar. Kurang mendapatkan pendidikan dan pengajaran.
  98. Bila kail panjang sejengkal, jangan lautan hendak diajuk. Bila ilmu dan pengalaman kita belum seberapa, janganlah mencoba melawan orang yang berilmu dan berpengalaman.
  99. Baru diajuk, ‘lah bertarung. Baru memulai sudah mendapatkan kesulitan.

100.Dalam laut boleh diajuk, dalam hati siapa tahu. Segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati seseorang tidak dapat diketahui.

101.Dangkal telah berseberangan, dalam telah keajukan. Telah diketahui benar bagaimana isi hatinya (perangainya).

102.Belum diajun ‘lah tertarung. Baru hendak melakukan sesuatu sudah mendapatkan halangan.

103.Belum diajun sudah tertarung. Baru hendak melakukan sesuatu sudah mendapatkan halangan.

104.Muda diajun kikir diperbuat. Orang yang mau bersuka ria, tetapi enggan mengeluarkan biaya.

105.Bak ajung berat sebelah. Pertimbangan atau keputusan yang tidak adil.

106.Dari ajung turun ke sampan. Mengundurkan diri dalam suatu jabatan.

107.Berakal ke lutut, berontak ke empu kaki. Bertindak semuanya sendiri tanpa menghiraukan orang lain.

108.Lubuk akal tepian budi. Orang pintar dan cerdik cendekia adalah tempat bertanya.

109.Akal akar berputar berpulas tak patah. Orang yang pandai tak akan mudah terkalahkan dalam perdebatan.

110.Akal sebenar akal. Cara berpikir dan bertindak yang benar.

111.Akal tidak sekali timbul. Tidak ada sesuatu yang sempurna.

112.Akal tidak sekali datang, pikiran tidak sekali timbul. Tiada sesuatu yang langsung sempurna.

113.Hidup berakal mati beriman. Dalam mengerjakan sesuatu hendaklah memakai pengetahuan dan menggunakan akal serta pikiran.

114.Bagai birah tak berakar. Kiasan terhadap orang yang loyo dan malas pembawaannya.

115.Bagai mencari belalang berakar. Perihal pekerjaan yang teramat sulit.

116.Akal akar berpulas tak patah. Orang yang pandai tak akan mudah terkalahkan dalam perdebatan.

117.Kian lama kian berakar. Makin lama makin berkuasa, makin lama makin kuat posisi atau keberadaannya.

118.Ke atas tak berpucuk, ke bawah tak berakar, ke tengah-tengah digirik kumbang. Periihal kutukan atau sumpah bagi yang tidak menepati janji, yaitu tidak selamat hidupnya bila melanggar janji tersebut.

119.Kalau pandai mencencang akar, mati lalu ke pucuknya. Bila pemimpinnya kalah, pengikutnya pun akan kalah juga.

120.Kalau pandai mencabut akar, layu sampai ke ujungnya. Membasmi kejahatan sampai tuntas hingga ke akar-akarnya.

121.Seperti bergantung pada akar lapuk. Mengharapkan bantuan orang yang tidak memiliki kuasa.

122.Setiap tunas akan tumbuh ke atas dan akar akan tumbuh ke bawah. Sudah menjadi hukum alam, sesuatu yang sudah wajar.

123.Tiada akar, rotan pun jadi. Jika terpaksa, barang yang kurang baik pun dapat dipergunakan.

124.Awal diingat akhir tiada. Pekerjaan yang tidak dipertimbangkan dengan matang.

125.Aku nampak olah, kelibat yang sudah kutahu. Bagi seseorang yang bijaksana, dangkal dalamnya pengetahuan seseorang segara diketahui.

126.Ada aku dipandang hadap, tak ada aku di hadap belakang. Bila bertatap muka, mulutnya manis dan bila di belakang kita, lain pembicaraan.

127.Alah bisa karena biasa. Segala kesukaran tidak terasa lagi bila sudah biasa.

128.Alah membeli menang memakai. Biar mengeluarkan modal besar asalkan mendapatkan hasil yang bagus dan memuaskan.

129.Alah menang tak tahu, bersorak boleh. Tidak mengetahui seluk beluk pertikaian, tetapi mengatakan siapa yang salah.

130.Alah mau bertimbang enggan, cungkil merih akan pembayar. Tidak menepati janji hingga cekcok.

131.Alah sabung menang sorak. Biarpun kalah, tetapi masih tinggi juga.

132.Sesak alam tempat diam, tak berbumi tempat tegak. Sangat pemalu sehingga tidak dapat menyembunyikan diri.

133.Menembak beralamat, berkata bertujuan. Perbuatan atau pekerjaan harus mengandung maksud atau tujuan.

134.Alamat biduk kan karam. Pertanda akar mengalami kesusahan hidup.

135.Alang-alang berminyak biar licin. Janganlah mengerjakan sesuatu dengan setengah-setengah.

136.Alang-alang mandi biar basah. Mengerjakan sesuatu harus dengan tuntas.

137.Tidak alang kepalang tanggung. Tidak tanggung-tanggung.

138.Di alas bagai memengat. Bila berkata hendaklah jangan asal bicara saja.

139.Berbilang dari esa, mengaji dari alif. Bila mengerjakan sesuatu, hendaklah dari permulaan (menurut aturan).

140.Zaman beralih, musim bertukar. Segala sesuatu hendaknya disesuaikan dengan zamannya.

141.Mengalih kain payah juga ke ceruk mengalih cakap di mata-mata saja. Seseorang yang bermaksud membalikan perkataannya.

142.Mengalih kain ke balik rumah, mengalih kata berhadapan. Seseorang yang hendak membalikkan perkataannya.

143.Timur beralih ke sebelah barat. Laki-laki menuruti perintah wanita.

144.Dibuat karena Allah menjadi murka Allah. Dilakukan dengan tujuan baik, tetapi disangka kurang baik atau tidak baik jadinya.

145.Bagai guna-guna, alu sesudah menumbuk dicampakkan. Dirawat dengan baik ketika masih diperlukan dan dicampakkan ketika tidak berguna.

146.Bagai alu pencungkil duri. Melakukan sesuatu yang tak mungkin berhasil.

147.Bagai dientak alu luncung. Dikalahkan oleh orang yang lemah atau bodoh.

148.Orang yang selancaran alu, atap yang berjahit, bendul bertekan. Persaudaraan yang dekat menurut adat.

149.Menurut alur dengan patut. Menurut adat atau menurut yang telah diatur.

150.Alur bertempuh jalan berturut. Dilakukan menurut kebiasaan pada umumnya.

151.Tumbuh pada alur sudah diturut, tumbuh pada jalan sudah ditempuh. Segala sesuatu telah dilaksanakan menurut aturan.

152.Habis beralur maka beralu-alu. Jika dengan jalan berunding tidak mencapai kesepakatan, maka dapat digunakan jalan kekerasan.

153.Kepada kera berbuat amal, di mana nasib akan berubah. Salah strategi atau siasat sehingga tetap bernasib buruk.

154.Belum besar sudah diambak. Belum apa-apa sudah sombong.

155.Besar diambak tinggi dianjung. Memiliki kedudukan tinggi karena dimuliakan pengikutya.

156.Subur karena dipupuk, besar karena diambak, Memiliki kedudukan tinggi karena dimuliakan pengikutya.

157.Masuk ambung tak masuk bilang. Jika mengerjakan sesuatu yang besar dan melupakan hal-hal yang kecil.

158.Mangga amra disangka kedondong. Sesuatu yang baik disangka buruk.

159.Bak anai-anai bubus. Berkerumun banyak sekali.

160.Busut juga yang ditimbun anai-anai. Orang yang biasa bersalah yang mudah dituduh oleh orang dalam suatu kejahatan.

161.Pecah anak buyung, tempayan ada. Tak akan kekurangan perempuan untuk dijadikan istri.

162.Belum beranak sudah ditimbang. Sudah bersenang-senang terlebih dahulu sebelum mencapai tujuan.

163.Bagai anak ayam kehilangan induknya. Bercerai-berai karena kehlangan tumpuan (pimpinan).

164.Bagai anak sepat ke tohor. Perihal bermalas-malasan di tempat orang lain.

165.Lain yang memperanakkan lain yang dipanggil baba. Keuntungan tidak selamanya diterima oleh orang yang berhak menerimanya.

166.Menyukai anak ayam. Mengerjakan pekerjaan yang tak mungkin dilakukan.

167.Menggerek bagai anak nangoi. Seseorang beranak banyak, tetapi malas mencari nafkah.

168.Menggantang anak ayam. Mengerjakan pekerjaan yang tak mungkin atau sia-sia untuk dikerjakan.

169.Anak panah kalau sudah terlepas dari busurnya tidak dapat dikembalikan lagi. Perkataan yang sudah terlanjur diucapkan tidak dapat ditarik lagi.

170.Anak baik menantu molek. Mendapat keuntungan yang berlipat ganda.

171.Anak kunci jahat, peti durhaka. Bila suami jahat, istrinya kelak akan berkhianat.

172.Anak sendiri disayangi, anak tiri dibengkongi. Bagaimanapun adilnya seseorang, dia lebih mengutamakan kepentingan sendiri.

173.Anak seorang penaka tidak. Memiliki barang yang tidak ada gantinya.

174.Anak seorang menantu malim. Seorang yang beruntung memiliki anak perempuan.

175.Anak tak ditunjuk tak diajari. Anak yang tidak mendapatkan pendidikan dan pengajaran dari orangtua dan saudara-saudaranya.

176.Anak dipangku dilepaskan, beruk dirimba disusui. Selalu menyelesaikan urusan orang lain tanpa memperhatikan urusannya sendiri.

177.Anak harimau tak akan menjadi anak kambing. Anak orang besar biasanya menjadi orang besar juga.

178.Kecil-kecil anak kalau sudah besar onak. Anak itu selagi masih kecil menyenangkan hati, tetapi setelah besar menyusahkan hati.

179.Kalau tiada hak sendiri anak mata berdiri-diri. Jika tak mempunyai hak atas sesuatu, kita ingin selalu melihat sesuatu yang dimiliki orang lain.

180.Kasihan anak tangan-tangankan, kasihan bini tinggal-tinggalkan. Walau menyayangi seseorang, jangan terlalu memanjakannya.

181.Rusak anak oleh memantu. Orang yang kita kasihi merusak harta orang yang kita berikan kepadanya.

182.Seperti ayam patuk anaknya. Memarahi anak karena hendak mengajari sesuatu.

183.Seperti anjing beranak tujuh. Sangat kurus.

184.Tergising-gising bagai anak tak diaku. Mendekati orang yang tak mau dihampiri.

185.Dengarkan cerita burung, anak dipangku dilepaskan. Mendengarkan tutur manis orang lain, pekerjaan sendiri diabaikan.

186.Mengandakkan layar. Mengurangi belanja.

187.Bagai anak dara mabuk andam. Letih, lesu, dan berpenyakit.

188.Tercincang puar bergerak andilau. Ayah, ibu, dan anak-anak.

189.Angan lalu paham tertumbuk. Mudah menurut teori, tetapi sukar dilaksanakan, sehingga kehilangan akal untuk memikirkannya.

190.Angan-angan mengikut tubuh. Bersusah hati karena memikirkan hal yang bukan-bukan.

191.Angan-angan menerawang langit. Mencita-citakan segala sesuatu yang tinggi-tinggi.

192.Angguk bukan, geleng ia. Lain di mulut, lain di hati.

193.Angguk anggak geleng mau, unjuk tidak berberikan. Lain di mulut, lain di hati.

194.Angguk-angguk kukuran, tapi kepala habis juga olehnya. Seolah-olah patuh dan bodoh, tetapi banyak akal sehingga dapat menyelesaikan pekerjaannya.

195.Anggup-anggup bagai rumput di tengah jalan. Hidup yang serba susah.

196.Angin berputar ombak bersabung. Merasa sulit sekali.

197.Angin tak dapat ditutupi, asap tak dapat digenggam. Kabar yang ganjil tidak dapat dirahasiakan.

198.Ke mana angin yang deras, di situ condongnya. Orang yang tidak mempunyai pendirian, mengikuti saja pada pendapat orang.

199.Kalau tak ada angin bertiup, takkan pokok bergoyang. Kalau tak ada sebab, tak akan terjadi sesuatu.

200.Dari jauh orang angkat telunjuk, kalau dekat angkat mata. Jika berbuat salah, kita akan diumpat orang di belakang, atau di depan.

201.Angkuh terbawa, tampan tertinggal. Padahal orang yang suka bersolek dan berlagak seperti orang cantik atau tampan, padahal tidak sesuai dengan dirinya.

202.Angus tiada berapi, karam tiada berair. Perihal orang yang mengalami kesusahan akibat kematian sang kekasih atau kekasihnya diambil orang lain.

203.Masa kecil teranja-anja sudah besar terbawa-bawa, lalu tua berubah tidak. Sesuatu yang sudah dibiasakan sejak kecil sukar diubah pada masa tua.

204.Dianjak layu dilanggar mati. Keputusan yang sudah tidak dapat diubah lagi.

205.Biarkan anjing menggonggong, kajilah tetap berlalu. Biarpun banyak rintangan dalam berusaha, kita tidak boleh berputus asa.

206.Bagai anjing berebut tulang. Orang tamak hendak memiliki harta orang lain, tetapi hartanya sendiri malah habis.

207.Bagai anjing tersepit di pagar. Serba salah.

208.Anjing itu meskipun dirantai dengan rantai emas sekalipun niscaya berulang pula ke tempat najis. Orang yang pada dasarnya jahat atau hina takkan dapat mengubah tingkah lakunya meskipun ia mendapat tempat yang baik dan layak.

209.Anjing menyalak di ekor gajah. Orang kecil hendak melawan orang besar atau orang lemah hendak melawan orang berkuasa.

210.Anjing diberi makan nasi bila kan kenyang. Berapa banyak pun kita berbuat kebaikan kepada orang jahat, tak akan ada artinya bagi dirinya.

211.Anjing ditepuk menjungkit ekornya. Orang yang hina, lemah, dan bodoh jika mendapat sedikit kemuliaan akan sombong.

212.Walau seribu anjing menyalak, gunung takkan runtuh. Perkataan orang kecil dan lemah takkan mempengaruhi orang besar yang berkuasa.

213.Seperti anjing beroleh bangkai. Perihal orang yang tamak mendapatkan rezeki besar.

214.Seperti anjing menggonggon tulang. Perihal tingkah laku orang yang rakus.

215.Seperti anjing kepala busuk. Perihal orang yang sudah terkenal atau diketahui kejahatannya akan mendapatkan hinaan.

216.Seperti anjing terpanggang ekor. Merasa gelisah dan berkeluh kesah tak karuan karena mendapat kemalangan.

217.Menganjungkan diri bagai sepasin. Orang yang hina tapi hendak berlagak.

218.Tinggi dianjuk besar diambuk. Kebesaran seseorang karena dimuliakan oleh anak buahnya.

219.Baru dianjur sudah bertarung. Baru hendak melakukan suatu pekerjaan sudah mendapat rintangan.

220.Anjur surut tak bertanam. Usaha untuk mencapai sesuatu tak hanya dengan majunya, melainkan dengan mundurnya pun dibolehkan asal berhasil.

221.Antah berkumpul sama antah, beras sama beras. Setiap orang akan mencari yang setingkat, sederajat, dan sekedudukan dengannya.

222.Tiada tahu antah terkuyak, tak tahu batu kan menarung. Tidak ada kesusahan karena tidak arif.

223.Dipilih antah satu per satu. Diperiksan dengan saksama.

224.Disisih bagai antah. Tidak diperbolehkan untuk ikut serta.

225.Bertelingkah bagai antan di lesung, ayam juga yang kenyang.

226.Antan patah lesung hilang. Tertimpa berbagai musibah.

227.Seperti antan pencungkil duri. Pekerjaan atau usaha yang sia-sia.

228.Canggung seperti antan dicukilkan duri. Pekerjaan atau usaha yang sia-sia.

229.Bergantung tiada bertali, bersalai tiada api. Wanita yang ditinggalkan suaminya tanpa diberi nafkah, tetapi tidak diceraikan.

230.Bermain api letup. Barang siapa yang melakukan kejahatan akan menerima akibatnya.

231.Bersuluh menjemput api. Menanyakan sesuatu yang sudah diketahui jawabannya.

232.Bagai api dalam sekam. Perbuatan jahat yang tak tampak.

233.Bagai rabuk dengan api asal dekat menyalalah ia. Dua orang yang selalu berdebat.

234.Bakar api minum abunya. Ejekan bagi seseorang yang tak mungkin berhasil dalam pekerjaannya.

235.Meletakkan api di bubungan. Sengaja mencari bahaya.

236.Menunggu kucing minta api. Menantikan sesuatu yang tak akan datang karena orang yang disuruh sedang bersenang-senang untuk dirinya sendiri.

237.Api padam puntung berasap. Perkara yang telah putus, tetapi timbul lagi.

238.Api padam puntung hanyut. Musnah semuanya.

239.Api itu tatkala kecil jadi kawan apabila besar jadi lawan. Kejahatan yang kecil hendaklah diperbaiki sebelum berbahaya.

240.Api makan sekam. Perbuatan jahat yang tidak tampak. Melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi.

241.Api nan tak kunjung padam. Semangat yang tak kenal padam.

242.Api kecil baik padam. Suatu kejahatan harus diberantas sejak awal.

243.Seperti meniup angin di atas air. Melakukan pekerjaan yang tidak memberikan harapan akan berhasil.

244.Seperti api makan lalang kering, tiada dapat dipadamkan lagi. Bahaya bagi orang lemah yang tak kuasa menolak perintah (mengatasinya).

245.Seperti api dengan asap. Tak dapat dipisahkan.

246.Seperti rabuk dengan api. Perihal dua orang yang melakukan pekerjaan yang sama, hanya tinggal menunggu peluang yang baik untuk mengerjakannya.

247.Telah ke tengah makan api. Perselisihan yang semakin menjadi.

248.Di mana api padam, di situlah punting tercampak. Di mana kita mati, di situlah kita dikuburkan.

249.Di mana api berpupuk, di situlah asap keluar. Setiap kejadian atau peristiwa selalu meninggalkan bekasnya..

250.Diapit tak bersanggit, ditambak tak bertali. Istri yang ditinggalkan oleh suaminya, tanpa diberi nafkah, tetapi tidak ticerai.

251.Laksana apung dipermainkan ombak. Perantau yang miskin di negeri orang.

252.Laksana apung-apung di tengah laut, dipukul ombak jatuh ke tepi. Orang yang belum mantap kedudukannya atau belum bernasib baik dalam mengadu untung.

253.Apung-apung di tengah laut. Terombang-ambing ke sana ke mari.

254.Terapung sama hanyut terendam sama basah. Sehidup semati, senasib sepenanggungan.

255.Terapung tak hanyut terendam tak basah. Belum tentu kesudahannya, misalnya tentang suatu perkara.

256.Bagai menanti ara hanyut. Menantikan sesuatu yang tak kunjung datang.

257.Menantikan ara tak bergetah. Mengharapkan sesuatu yang tak terpenuhi.

258.Tinggi kayu ara dilangkahi, rendah bilang-bilang diseluduki. Dalam melakukan sesuatu hendaklah dengan sewajarnya.

259.Berarak tidak berlari. Melakukan segala sesuatu sebagaimana mestinya.

260.Elok arak di hari papas. Orang yang merasa suka cita karena mendapatkan untung dan berhasil mencapai tujuannya.

261.Awan berarak ditangisi. Bersedih hati mengenang nasib yang tak beruntung.

262.Bintang di langit dapat dibilang tak sadar di mukanya arang. Orang yang suka mengungki-ungkit kesalahan orang, tetapi tidak menyadari kesalahannya sendiri.

263.Berkerat rotan berpatah arang. Perselisihan yang tak dapat didamaikan lagi.

264.Jika tiada tersapu arang di muka, daripada hidup baiklah mati. Lebih baik mati daripada menanggung malu.

265.Membuluh arang di muka. Menyebabkan malu.

266.Membuang arang di muka. Menghapuskan malu.

267.Menghapus arang di muka. Menghapuskan malu.

268.Arang itu jikalau dibasuhkan air mawar sekalipun tidak akan putih. Orang yang memiliki dasar tabiat buruk tak dapat berubah menjadi baik.

269.Arang habis besi binasa. Pekerjaan yang tak ada hasilnya sedikit pun.

270.Arang habis besi tak kimpal. Mengalami banyak kerugian, tetapi tujuan belum tercapai.

271.Kalah jadi abu menang jadi arang. Menang atau kalah sama-sama mendapatkan rugi.

272.Kurang arif badan celaka, amat arif badan binasa. Jika kurang hati-hati, badan akan celaka, tetapi jika terlalu hati-hati, badan akan binasa sama sekali.

273.Belakang arang pun jika diasah tajam juga. Orang yang bodoh bila selalu diajarkan akan menjadi orang yang pandai.

274.Calak-calak ganti asah. Menggunakan barang yang ada, sebelum mendapatkan barang yang baik.

275.Asak kata dia, angsur kata dia. Lain soal lain jawaban.

276.Sebagai ayam diasak malam. Perihal seseorang yang tak berdaya.

277.Tak berasak lenggang dari ketiak. Tak pernah jauh.

278.Diasak layu, dicabut mati. Perihal sesuatu yang tak dapat berubah lagi.

279.Asal berisi tembolok senang hati. Merasa puas bila kebutuhan makanan dan pakaian tercukupi.

280.Asal ayam pulang ke lumbung, itik pulang ke pelimbahan. Perihal tabiat seseorang yang tak pernah berubah.

281.Asal ada kecilpun pada. Jika tidak banyak tersedia, sedikit pun cukup.

282.Asal ditugal adalah benih. Hendaknya tidak memikirkan darimana datangnya suatu pertolongan,namun pikirkanlah bagaimana mengerjakannya terlebih dahulu dan kerjakanlah.

283.Usul menunjukkan asal. Tingkah laku dan budi bahasa seseorang menunjukkan asal muasal keturunannya.

284.Usul-usul asal-asal, asal jangan ditinggalkan. Segala sesuatu hendaknya diperhatikan duduk perkaranya.

285.Garam di laut asam di gunung bertemu di belanga. Laki-laki dan perempuan yang sudah berjodoh akan bertemu juga akhirnya.

286.Laksana garam dengan asam. Bila sudah berjodoh, akan bertemu juga walaupun dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh.

287.Asam di gunung, ikan di tebat, dalam belanga bertemu juga. Laki-laki dan perempuan yang sudah berjodoh akan bertemu juga akhirnya.

288.Asam di darat, ikan di laut. Laki-laki dan perempuan yang sudah berjodoh akan bertemu juga akhirnya.

289.Belum dipanjat asam kemenyan. Belum menikah.

290.Bagaikan menggantang asap. Melakukan perbuatan yang sia-sia.

291.Masuk asap keluar angin. Nihil, belum mendapat apa-apa.

292.Kalau tak ada api, masakan ada asap. Kalau tidak ada kesalahan yang dilihat orang, tak mungkin dituduh.

293.Merasai asin garam. Perihal seseorang yang telah memiliki banyak pengalaman.

294.Asing lubuk asing ikannya, asing padang asing belalangnya. Setiap negeri memiliki peraturan sendiri.

295.Asing maksud, asing sampai. Mendapatkan sesuatu yang tidak diharapkan.

296.Asing udang, asing nikmat. Setiap orang memiliki pendapat dan pikiran sendiri.

297.Langit hendak diatap. Seseorang yang hendak mengerjakan sesuatu yang tidak mungkin.

298.Atap ijuk perabung timah. Perihal dua macam perbuatan yang sepadan.

299.Atap rumbia perabung upih. Barang yang baik bercampur dengan barang yang buruk.

300.Bagai aur dengan rebung. Perihal persahabatan yang sangat erat.

301.Aur ditanam betung tumbuh. Mendapatkan banyak keuntungan.

302.Aur ditarik sungsang. Perihal sesuatu yang banyak sangkut pautnya sehingga susah dilaksanakan, susah sekali.

303.Awak menangis diberi pisang. Perihal bujukan yang mengobati kesedihan seseorang.

304.Awak rendah sangkutan tinggi. Sombong tak tahu diri miskin, tak sadar bahwa dirinya tak mampu.

305.Awak oleh gelanggang usang. Perihal orang yang tertimpa kemalangan yang tidak dapat tertolong lagi.

306.Awak sakit daging menimbun. Perihal seseorang yang selalu merasa kekurangan padahal dia memiliki banyak simpanan uang.

307.Tak tahu di bungkuk awal, tak tahu di buruk awal. Sombong, tak tahu diri.

308.Badai pasti berlalu. Kesulitan hidup pasti akan berkurang dan akhirnya akan hilang.

309.Badai makan anak. Ayah membuang anak karena takut kebesarannya akan hilang.

310.Badak makan anak. Membuang anaknya sendiri.

311.Anak badak dihambat-hambat. Mencari bahaya atau kesukaran dengan sengaja.

312.Sayang anak badak tampung, cucu konon badak raya. Orang yang mengaku-aku keturunan bangsawan.

313.Biar badan penat asal hati suka. Suatu pekerjaan yang disenangi tak akan terasa melelahkan.

314.Badan boleh dimiliki, hati tiada boleh dimiliki. Badan boleh lemah terhadap orang yang berkuasa, tetapi hati tidak.

315.Rusak badan karena penyakit, rusak badan karena laku. Karena penyakit badan kita menjadi buruk, karena kelakuan buruk nama baik bangsa (suku) dapat dirusak.

316.Di mana badan takkan kurus, anak bertujuh dibesarkan. Keluhan seorang janda yang mengalami kesulitan dalam membesarkan anak-anaknya.

317.Hancur badan dikandung tanah, budi baik terkenang jua. Budi baik tak akan dilupakan dan dikenang selamanya.

318.Beroleh badar tertimbakan. Mendapat keuntungan yang tak disangka-sangka.

319.Lonjak ikan lonjak badar. Orang kecil meniru-niru perbuatan dan kebiasaan orang besar.

320.Loncat ikan, loncat badar. Orang kecil meniru-niru perbuatan dan kebiasaan orang kaya.

321.Melonjak badar, melonjak gerundang. Meniru-niru orang kaya.

322.Kalau pandai menggulai badar menjadi tenggiri. Kalau pandai mengatur, barang yang kurang baik akan menjadi baik.

323.Sedangkan bah kapur tak hanyut, ini pula kemarau panjang. Selagi masih ada mata pencaharian tidaklah kaya apalagi bila tidak memiliki mata pencaharian.

324.Bahasa menunjukkan bangsa. Tutur kata yang sopan menunjukkan asal-usul yang tinggi.

325.Bahasa dan bangsa itu tiada dijual atau dibeli. Walaupun kaya bila tidak berbudi bahasa akan dihina juga.

326.Budi baik basa ketuju. (Budi baik bahasa ketuju). Tingkah lakunya baik dan cara berbicaranya penuh sopan santun dan keramahtamahan.

327.Beban telah terpasang di bahu. Tanggung jawab yang tak dapat dielakkan lagi.

328.Memikul di bahu menjunjung di kepala. Mengerjakan sesuatu menurut aturannya.

329.Tangan mencencang bahu memikul. Siapa yang berbuat, dia yang bertanggung jawab.

330.Buat baik berpandai-pandai, buat jahat jangan sekali. Membuat pekerjaan baik jangan berlebihan, tetapi jangan sekali-kali berbuat jahat.

331.Jikalau tidak dapat dibaiki janganlah dipecahkan. Pekerjaan yang tidak dapat diselesaikan jangan kita kusutkan.

332.Jika pisau tidak bisa berbaja makin dikikir bertambah tumpul. Jika anak tidak memiliki kemauan, semakin diberi pengajaran, semakin bodoh.

333.Kaduk kena baja. Kejahatan yang cepat meningkat.

334.Bajak patah banting terambau. Menderita kecelakaan yang bertimpa-timpa.

335.Bajak selalu ditanah yang lembut. Orang yang lemah yang selalu menderita.

336.Bajak sudah terdorong ke bancah. Sudah terlanjur.

337.Dahulu bajak daripada Jawi. Tidak menurut aturan yang biasa.

338.Bagai melulus baju sempit, bagai terbuang kesisiran. Seseorang yang merasa senang karena terlepas dari kesusahan.

339.Bagai melulus baju sempit. Baru saja terlepas dari kesusahan.

340.Bagai memakai baju pinjaman. Tingkah laku yang dibuat-buat sehingga tamnpak canggung.

341.Bagai memakai baju sempit. Perbuatan yang tidak sesuai dengan keadaan diri.

342.Baju indah dari balai, tiba di rumah menyarungkan. Hukuman telah diputuskan.

343.Menyingsikan lengan baju. Melakukan perbuatan atau tindakan.

344.Mencabik baju di dada. Menceritakan aib sendiri kepada orang lain.

345.Bakar air, ambil abunya. Sesuatu yang mustahil.

346.Bakar tak berbau. Maksud jahat yang tersembunyi.

347.Bakar tak berapi. Tampaknya menaruh cinta, sebenarnya tidak sama sekali.

348.Bakar tak hangus. Menempuh bahaya agar selamat.

349.Dibakar tak hangus, direndam tak basah. Kikir sekali.

350.Bala lalu dibawa singgah. Sengaja mencari kesusahan.

351.Pejatian balam padi rebah. Mendapatkan keuntungan tanpa harus bersusah payah.

352.Bagai balam dengan ketitiran. Dua orang yang tak pernah akur, karena keduanya, selalu berusaha untuk membanggakan diri.

353.Ibarat balam, mata lepas dalam badan terkurung. Perihal keadaan seorang gadis yang dipingit.

354.Jerat tak melupakan balam, tetapi balam melupakan jerat. Orang senang melupakan bahaya yang mengintainya, sedangkan bahaya takkan pernah melupakan calon mangsanya.

355.Memikat balam dengan balam. Mencari sesuatu dengan sejenisnya, misalnya penjahat dengan penjahat.

356.Sangkar sudah balam terlepas. Keperluan untuk sesuatu sudah dipersiapkan tiba-tiba yang diperlukan terlepas dari tangan.

357.Alang berjawab, tepuk berbalas. Perbuatan baik dibalas dengan perbuatan baik, perbuatan jahat dibalas dengan perbuatan jahat.

358.Ada ubi ada talas, ada budi ada balas. Suatu perbuatan pasti ada balasannya.

359.Ada hujan ada panas, ada hari boleh balas. Suatu waktu ada yang membalas.

360.Adat hidup balas berbalas. Sudah sewajarnya saling menolong.

361.Berbalik ke langit berbalik mudik. Mustahil.

362.Bersembunyi di balik ilalang sehelai. Berlindung atau menyembunyikan sesuatu pada tempat yang mudah diketahui orang lain.

363.Baik belakang lain bicara. Perihal orang munafik, di depan berbicara baik, di belakang lain pula pembicaraannya.

364.Membalik telapak tangan. Sangat mudah.

365.Membalik-balik mayat dalam kubur. Menyebut-nyebut kesalahan orang yang telah meninggal.

366.Dibalik-balik bagai memanggang. Dipikirkan masak-masak.

367.Bagai baling-baling di atas bukit. Pikiran yang berubah-ubah.

368.Hati bagai baling-baling. Hati yang tak tetap.

369.Bagai membelah bambu. Berat sebelah, tidak adil..

370.Seperti pohon bambu ditiup angin. Orang yang sanggup menderita kekurangan dengan sabar dan bila kesusahan telah lewat, dia dapat menegakkan kepala kembali.

371.Bandar terbuka dagangan murah, badan sudah tua. Memiliki keinginan ketika tidak mempunyai uang.

372.Membandarkan air ke bukit. Mengerjakan pekerjaan yang sia-sia.

373.Upah lalu bandar tak masuk. Pekerjaan yang hanya menghabiskan biaya saja, tetapi tidak memberikan hasil.

374.Telur dua sebandung pecah satu pecah kedua. Sehidup semati; seia sekata.

375.Membangunkan macan tidur. Perbuatan yang akan menimbulkan masalah.

376.Merebut, merampas, membunuh, membangun. Orang yang merampas harta orang atau membunuh harus dihukum dengan denda.

377.Berapa tinggi terbang bangau akhirnya hinggap di belakang kerbau juga. Sejauh-jauhnya orang merantau, akan pulang ke nergeri asalnya juga.

378.Bangau, bangau minta aku leher badak, badak minta aku daging. Merasa iri melihat kekayaan orang lain.

379.Seperti bangau di ekor kerbau. Selalu menjadi penurut, tak memiliki pendapat sendiri.

380.Setinggi-tinggi terbang bangau hinggap di bubungan juga. Sejauh-jauhnya orang merantau, akan pulang ke nergeri asalnya juga.

381.Setinggi-tingginya bangau terbang surutnya ke kubungan. Sejauh-jauhnya orang merantau, akhirnya akan kembali ke kampung halaman juga.

382.Bangkai gajah bolehkah ditudung oleh nyiru? Kejahatan yang besar itu tidak dapat disembunyikan.

383.Menjemur bangkai di alas bukit. Memperlihatkan aib sendiri.

384.Ada bangkai ada hering. Jika adil perempuan lacur, banyak laki-laki hidung belang berdatangan.

385.Adakah bunga menolak bangkai? Kebiasaan orang jahat itu takkan ditinggalkan dan akan diulangi sewaktu-waktu.

386.Seperti membangkitkan ular tidur. Mengungkit-ungkit perkara yang sudah terlupakan sehingga menimbulkan perselisihan.

387.Terbangkit batang terendam. Terangkat kembali nama-nama yang hilang dari ingatan.

388.Rusak bangsa karena laku. Kelakuan buruk merusak nama baik/keturunan seseorang.

389.Orang bangsa makan, masak mentah juga. Tidak dapat membedakan yang baik dengan yang buruk, yang halal dengan yang haram, yang benar dengan yang salah.

390.Bangsat tak tahu disukarnya. Tak tahu diri.

391.Bertiraikan banir. Tak mempunyai rumah.

392.Bajak tersorong ke banir. Pekerjaan yang sudah terlanjur dilakukan.

393.Tinggi banir tempat berlindung. Orang yang memiliki kedudukan tinggi merupakan tempat pencari pengayoman.

394.Lepas bantal berganti tikar. Turun ranjang, seorang laki-laki menikahi saudara perempuan istrinya yang telah meninggal.

395.Mata tidur bantal berjaga. Istri berbuat jahat saat suaminya lengah.

396.Orang mengantuk disorongkan bantal. Memperoleh sesuatu yang didambakan.

397.Tikar emas bantal suasana sama dengan berbantalkan lengan. Lebih baik hidup mandiri.

398.Terajar pada banteng pincang. Tak ada gunanya mengajarkan orang sakit kepala.

399.Bak banto dilondong air. Semuanya dalam kesusahan.

400.Lutut membuku banto. Lutut yang berbentuk bagus.

401.Banyak bekerja sedikit bicara. Menggunakan waktu sebaik mungkin.

402.Banyak habis sedikit sedang. Dalam jumlah banyak akan habis, tetapi dalam jumlah sedikit pun sebenarnya mencukupi, bergantung pada cara pemakaiannya.

403.Bapak burik anaknya rintik. Anak akan menuruti orangtuanya.

404.Kalau bapaknya bergendang masak anaknya tak menari. Bapaknya menyombongkan ilmu, anaknya pun demikian.

405.Baji dahan membelah dahan. Memboroskan harta tuan sendiri.

406.Ketemu baji dengan matan. Keras bertemu dengan keras.

407.Seperti orang kena kabaji. Seperti orang yang terkena guna-guna.

408.Genggam bara api biar jadi arang. Bersabar dalam melakukan sesuatu agar berhasil.

409.Jangan digenggam seperti bara api terasa hangat dilepaskan. Mengerjakan pekerjaan dengan setengah-setengah tidak akan berhasil dengan baik.

410.Menggeletek-geletek bagai bara pilah. Orang yang suka mengada-ada.

411.Seperti berjejak di atas bara. Gelisah karena ditimpa kesusahan.

412.Tarik punting padamlah bara. Apabila telah mati, hilanglah daya upaya.

413.Ada uang ada barang. Bila memiliki banyak uang, akan memiliki barang yang lebih baik.

414.Mandi tak basah. Tak berani mengerjakan apa pun.

415.Segala pala mandi biarlah basah. Bila melakukan pekerjaan harus tuntas.

416.Sudah basah kehujanan. Kemalangan yang terus menerus.

417.Jadi air pembasuh kaki. Menjadi barang tak berharga.

418.Tinggal naik basuh kaki saja. Mengerjakan suatu pekerjaan dengan mudah.

419.Tak payah basuh kaki tangan. Mengerjakan suatu pekerjaan dengan mudah.

420.Besar batang besar dahannya. Besar penghasilan besar pula pengeluarannya.

421.Baji dalam pembelah batang. Orang kepercayaan yang sering merugikan kita.

422.Batang kayu di hutan tak sama tinggi, sedangkan kayu di rimba bertinggi rendah.Nasib seseorang tidaklah sama walaupun bersaudara.

423.Membangkit batang terendam. Memunculkan sesuatu yang telah lama hilang.

424.Menggolek batang terguling. Mengerjakan suatu pekerjaan dengan mudah.

425.Angkat batang keluar cacing gelang-gelang. Mengerjakan pekerjaan orang lain yang terbengkalai, tetapi tidak mendapatkan keuntungan sedikitpun.

426.Ada batang cendawan tubuh. Di mana kita berada, di situ rezeki.

427.Sepuluh batang bertindih, yang di bawah jua yang luluh. Mengerjakan suatu pekerjaan dengan senang dan mudah.

428.Sepuluh batang bertindih, yang di bawah jua terimpit. Perkataan yang benar adalah pangkal segala sesuatu.

429.Sungguhpun batang merdeka, ingat pucuk akan terhempas. Suatu pekerjaan jangan hanya diingat senangnya, tetapi kesusahan dan kemalangan dapat sewaktu-waktu akan terjadi harus dipikirkan juga.

430.Berjalan sampai ke batas, berlayar sampai ke pulau. Segala sesuatu hendaknya sampai ke maksudnya.

431.Berbunyi batu, berbunyilah dia. Orang yang tak dapat berkata-kata karena terbukti bersalah.

432.Batu pun empuk, jangankan hati manusia. Perkataan yang lemah lembut dapat memikat hati.

433.Batu yang keras air pelekuknya, hati yang keras lidah pelembutnya. Orang yang keras hati hanya dapat dibujuk dengan kata-kata yang lemah lembut.

434.Batu yang selalu bergolek di sungai tidak dihinggapi lumut. Orang yang selalu bertambah ilmu pengetahuannya tak dapat diperdayai orang lain, orang yang berpindah-pindah mata pencaharian takkan kaya.

435.Batu bulat tak bersanding. Orang yang berani kepada siapa saja.

436.Batu kecil berguling naik, batu besar berguling turun. Orang hina menjadi mulia karena harta dan orang mulia menjadi hina karena harta pula.

437.Batu direbus kapankah empuk? Menunggu sesuatu yang tak mungkin terjadi.

438.Batu hitam tak bersanding. Orang yang halus budi pekertinya, tetapi keras pendiriannya.

439.Lembar batu sembunyi tangan. Tidak bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya.

440.Mencampakkan batu keluar. Lebih suka berbuat baik kepada orang lain dibandingkan membantu keluarga sendiri.

441.Melepaskan batuk di tangga. Melakukan sesuatu tidak dengan sungguh-sungguh.

442.Bau busuk tidak berbangkai. Fitnah yang tidak terbukti kebenarannya.

443.Baunya bagai malaikat terhempas. Sangat wangi sekali.

444.Baunya setahun pelayaran. Bau amat buruk.

445.Masih berbau kunyit dengan lengkuas. Masih memiliki hubungan persaudaraan.

446.Sepandai-pandainya membungkus, yang busuk itu akan terbau juga. Sepandai-pandainya menyembunyikan sesuatu yang buruk, lama-kelamaan akan ketahuan juga.

447.Tidak berbau jaringan kulit bolai. Tidak ada hubungan sanak saudara sedikit pun.

448.Telah berbau bagai embacang. Suatu perkara yang mulai jelas.

449.Umpama kesturi karena bau hilang nyawanya. Mendapat bencana karena menunjukkan suatu hal yang berharga kepada orang yang tidak dapat dipercaya.

450.Harum menghilangkan bau. Perbuatan buruk yang tidak tampak karena tertutup oleh perbuatan baik atau nama baik.

451.Seperti baung dipukul. Menjerit-jerit.

452.Berbaur pangkal perceraian. Orang bersaudara bila berdekatan selalu berselisih.

453.Berbaur bagaikan muntah, bercerai bagaikan demam. Orang bersaudara bila dekat berbantahan, bila jauh saling merindukan.

454.Yang benar bawa lalu, yang salah bawa surut.Ambil yang benarnya dan buang yang salah atau jeleknya.

455.Kecil teranja-anja besar terbawa-bawa. Kebiasaan buruk sejak kecil sukar dihilangkan setelah dewasa.

456.Seperti kucing dibawakan lidi. Sangat ketakutan.

457.Berkata di bawah-bawah mandi di hilir-hilir. Belum dewasa, kurang dari 17 tahun.

458.Rusak bawang ditimba jambak. Mendapat bencana karena perbuatan kawan sendiri.

459.Tak berbawang tak berlada. Ejekan kepada orang yang pemarah.

460.Bayang-bayang sepanjang badan. Sesuai dengan keadaan dan kemampuannya.

461.Bayang-bayang sepanjang tubuh, selimut sepanjang badan. Bijaksana dalam memberi perintah sesuai dengan yang diperintahkan.

462.Bayang-bayang tidak sepanjang badan. Berbuat sesuatu melebihi wewenangnya.

463.Bayang-bayang disangka tubuh. Mengharapkan sesuatu yang belum tentu.

464.Dimabuk bayang-bayang. Menginginkan sesuatu yang mustahil.

465.Beban berat senggulung batu. Tanggungan yang sangat berat.

466.Beban sudah di pintu. Wanita yang sudah patut memiliki suami.

467.Beban sudah di depan mata. Kewajiban dan tanggung jawab sudah kelihatan pasti dan dekat.

468.Beban tak lepas dari bahu. Tanggung jawab yang tidak bisa dielakkan lagi.

469.Besar senggulung dari bahu. Besar belanja daripada pendapatan.

470.Ibarat beban belum lepas dari bahu. Belum lepas dari tanggung jawab.

471.Ibarat beban sudah ke tepi. Pekerjaan yang hampir selesai atau suatu perkara yang hampir diputuskan.

472.Kurang beban batu digalas. Sudah senang mencari kesusahan dan kesulitan.

473.Seberat-berat beban, laba jangan ditinggalkan. Seberat-beratnya pekerjaan, jangan ditinggalkan karena akan ada keuntungan yang diterima.

474.Seberat-berat beban di atas kepala jua. Betapa berat tanggungan yang harus dipikul sendiri.

475.Tiada beban dicari beban, pergi ke pulau batu digalas. Mencampuri perkara orang lain dan memperoleh kesusahan sendiri.

476.Gajah berak, kancil pun berak besar, akhirnya mati kebebangan. Perihal seseorang yang hendak mengikuti perbuatan orang besar, akhirnya malah mendapatkan kesusahan.

477.Tak hujan lagi becak, ini kan pula hujan. Di masa senang saja sudah merasa susah apalagi di masa susah.

478.Mengharapkan bedil pulang. Mencelakakan keluarga sendiri.

479.Menjual bedil kepada lawan. Menyusahkan diri sendiri.

480.Kalau tak punya bedil di pinggang, lebih baik berpedang lapang. Jika tidak ada sesuatu yang diandalkan, lebih baik banyaklah bersabar.

481.Seletus bedil berbunyi, mencelur ikan di dalam laut, berkokok ayam dalam hutan. Berbicara hati-hati karena kata sepatah dapat juga menggemparkan orang lain.

482.Takut akan bedil lari ke pangkalan. Bila memiliki persoalan dengan seseorang lebih baik mendekati pimpinan orang tersebut.

483.Bekas tertarung lagi terkenang apa pula hubungan nyawa. Sesuatu yang dirindukan tak pernah dilupakan.

484.Membekali budak lari. Menambah kerugian.

485.Tak dapat barunya, bekasnya pun jadilah. Jika tidak mendapatkan yang baru, yang bekas pun dapat dipakai.

486.Bagai belacan dikerat dua. Mendatangkan aib bagi kedua belah pihak.

487.Seperti kera kena belacan. Gelisah sekali.

488.Pisau makan sebelah. Tidak adil.

489.Bagai pinang dibelah dua. Sama dan serupa.

490.Memotong sama besar, membelah sama besar. Mengadili suatu perkara harus adil.

491.Retak menanti belah. Perselisihan yang berkembang menjadi perkelahian.

492.Seperti membelah betung. Seseorang yang menjadi penengah dalam suatu perkara, tetapi berlaku tidak adil.

493.Belakang parang pun kalau diasah akan tajam. Orang bodoh jika rajin belajar niscaya akan pandai.

494.Balik belakang lain bicara. Merugikan teman sendiri.

495.Pinggangnya ramping bagai belalang tertunduk. Pinggang yang ramping dan bagus.

496.Belalang dapat menuai. Mendapatkan keuntungan secara tidak sengaja.

497.Belalang hendak jadi elang. Orang yang bodoh bertingkah laku seperti orang pandai.

498.Bagai belalang di atas kacang. Mengerjakan pekerjaan yang tak mungkin akan berhasil.

499.Bagai mencari belalang di atas akar. Melakukan pekerjaan yang sia-sia.

500.Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Setiap negeri memiliki adat istiadat sendiri.

501.Mencari belalang di atas rumput. Pekerjaan yang sia-sia.

502.Mata belalang belum pecah sudah hendak membuta. Tidur malam kepagian.

503.Pinggangnya ramping bagai belalang tertunduk. Pinggang yang ramping dan bagus.

504.Kecil-kecil cabai rawit. Kecil, tetapi cerdik dan pemberani.

505.Siapa makan cabai ialah berada pedas. Barang siapa berbuat buruk akan merasakan akibatnya.

506.Seperti orang kecabaian. Sangat gelisah dan bingung tidak tahu apa yang hendak dilakukan.

507.Disangka cabai rawit tak pedas. Kecil-kecil pemberani.

508.Mencabik baju di dada. Membuka rahasia keluarga sendiri.

509.Mencabik mudah, menjahit susah. Lebih baik mencari perselisihan daripada mendamaikan orang yang berselisih.

510.Mencabik kayu di dagu. Membuka aib sendiri.

511.Cabik-cabik bulu ayam. Perselisihan antarsaudara yang tidak dapat didamaikan lagi.

512.Orang cabuk mengekor angin. Perihal sesuatu yang tak layak berada di muka.

513.Mencabut dari limbahan. Membersihkan nama keluarga yang tercemar.

514.Dianjuk layu dicabut mati. Keputusan atau pendirian yang tetap, tidak boleh diubah lagi.

515.Cacak seperti lambang tergadai. Perihal seseorang yang sedang terpana.

516.Cacat-cacat cempedak, cacat nak hendak. Perihal seseorang yang mencela sesuatu padahal dia menginginkan sesuatu yang dicelanya.

517.Bagai cacing kepanasan. Selalu gelisah.

518.Sedangkan cacing diinjak bergerak apalagi manusia. Selemah-lemahnya orang bila terus-menerus ditekan dan dihina akan membela dirinya.

519.Cacing telah menjadi ular naga. Orang yang hina dan rendah telah menjadi orang yang mulia.

520.Cacing hendak menjadi naga. Perihal orang hina yang ingin menyamai orang besar.

521.Mengalih kain payah juga ke ceruk, mengalih cakap di mata-mata saja. Mengatakan rahasia hanya kepada orang-orang tertentu yang dapat dipercaya saja agar tidak menimbulkan masalah.

522.Cakap berdegar-degar, tahi tersangkut di gelegar. Banyak omong, tetapi tak berbuat apa-apa.

523.Cakap melangit dapur tak berasap. Berlagak seperti orang kaya padahal tidak berpunya.

524.Calak ganti asah menanti tukang belum datang. Menggunakan barang yang ada sambil menunggu barang yang tepat.

525.Mencampakkan air ke laut. Memberikan sesuatu kepada orang yang berkecukupan sehingga tidak berarti sama sekali.

526.Campak bunga dibalas dengan campak tahi. Kebaikan dibalas dengan kejahatan.

527.Minyak dengan air adakah bercampur? Orang yang baik tidak mungkin bercampur dengan orang yang biasa berperilaku buruk.

528.Campur orang dengan pemaling, sekurang-kurangnya jadi pencecak. Seseorang yang bergaul dengan orang jahat lambat laun akan menjadi jahat juga.

529.Seperti orang mengisap candu, dengan candu sampai kematiannya. Sangat sulit mengubah kebiasaan buruk.

530.Kera dapat canggung. Mendapat sesuatu dari orang yang benar-benar berkemampuan.

531.Menjual tangkal dengan cangkul. Menceritakan hal yang tidak benar.

532.Carik-carik bulu ayam, lama-lama bercantum juga. Perselisihan antarsaudara akan berakhir dengan perdamaian.

533.Dipandang dekat, dicapai tidak boleh. Boleh dilihat, dipegang jangan.

534.Jauh mencari suku dekat mencari induk. Sebelum mencari sahabat lain di tempat perantauan, lebih baik mencari saudara sebangsa dan sesuku di terlebih dulu.

535.Mahal dibeli sukar dicari. Perihal sesuatu yang sangat bernilai.

536.Kata dahulu bertepati, kata kemudian tak bercari. Janji harus lebih ditepati, hanya diubah bila sudah dirundingkan.

537.Kata dahulu bertepati, kata kemudian tak bercari. Menepati janji yang telah diucapkan, sedangkan perkara lain yang datang belakangan dimufakatkan lagi.

538.Seperti mencari kutu dalam ijuk. Mengerjakan pekerjaan yang sangat susah.

539.Jangan dicatuk dengan yang tajam, cincang dengan yang mahal. Bila memberi nasihat hendaknya dengan kata-kata yang lembut dan berulang-ulang.

540.Si cebol hendak mencapai bulan. Menginginkan sesuatu yang tidak mungkin tercapai.

541.Seperti cecak makan kaper. Orang yang tidak bernafsu makan.

542.Seperti cecak termakan kapur. Orang yang mendapat malu dalam suatu perjamuan karena kesalahan yang diperbuatnya.

543.Seorang dicecak semuanya merasa sedih. Bila salah satu anggota keluarga terhina, seluruh keluarganya turut merasakan.

544.Yang dikandung berceceran, yang dikejar tidak dapat. Mengharapkan sesuatu yang tidak pasti dan mengabaikan yang sudah dimilikinya.

545.Kececeran dibaliki ketinggalan dijemput. Segala sesuatu yang belum sempurna dalam perundingan hendaknya diulang dan disempurnakan.

546.Cekel berhapis lapuk berteduh. Terlampau kikir.

547.Memanjat pohon cekur boleh mati jatuh. Mendapatkan kesusahan yang berat hanya karena kesalahan kecil.

548.Memanjat pohon cekur jatuh mati. Perihal kejadian yang mustahil.

549.Cekur jeragau berbau lagi. Masih mentah, masih muda benar.

550.Cekur jeragau ada lagi di umbun-umbun. Belum berpengalaman.

551.Berbuat jahat jangan sesekali, terbawa cemar segala ahli. Jangan sekali-kali berbuat jahat karena nama baik keluarga akan menjadi buruk.

552.Seperti cembul dapat tutupnya. Cocok sekali.

553.Bagai bunyi cempedak jatuh. Suara yang nyaring sekali.

554.Seorang makan cempedak semua kena getahnya. Akibat kesalahan seseorang, semua dianggap bersalah.

555.Tanam cempedak tumbuh nangka. Memperoleh lebih dari yang diharapkan.

556.Dicari cempedak di bawah kerambil. Mencari seseorang bukan pada tempatnya sehingga tidak dapat bertemu dengannya.

557.Daripada cempedak baik nangka. Daripada tidak ada, yang ada walaupun sedikit juga cukup.

558.Mencencang tidak memapas, membunuh tidak membangun. Perbuatan di luar kebenaran dan keadilan.

559.Sepandai-pandai mencencang landasan juga yang habis. Walaupun banyak pertolongan, tetap saja orang yang berhajat yang mengeluarkan banyak uang.

560.Tangan mencencang bahu memikul. Barang siapa bersalah harus mendapatkan hukuman.

561.Cencang putus tiang tumbuk. Putusan yang mengikat.

562.Cencang air tidak putus, pancung abu tak berbekas. Hubungan dua marga tidak akan putus sekalipun timbul sengketa atau telah berjauhan tinggalnya.

563.Cencang dua segeregai. Sekali jalan, dua pekerjaan terselesaikan.

564.Cencaru makan petang. Pekerjaan yang memakan waktu lama; tetapi hasilnya baik.

565.Sudah gaharu cendana pula. Pura-pura tidak tahu.

566.Bagai cendawan kelmeneh. Mudah menangis.

567.Bagai cendawan tumbuh. Banyak sekali tumbuh dalam sekali waktu.

568.Seperti cendawan tumbuh dalam musim hujan. Banyak sekali tumbuh dalam satu waktu.

569.Sebagai cendawan dibasuh. Roman muka yang pucat pasi.

570.Di mana cendawan tumbuh, tumbuh di situ tembilang terentak.

571.Di mana ada perkara, di situlah diselesaikan.

572.Sebab karena cendrawasih, merak emas dilepaskan. Melepaskan cinta lama dan mendapatkan cinta baru.

573.Diberi kuku hendak mencengkeram. Perihal orang yang diberi kuasa sedikit saja sudah hendak berbuat sewenang-wenang.

574.Siapa cepat boleh dulu, siapa kemudian putih mata. Orang yang lebih dulu meminta pertolongan diberi pertolongan dulu dan orang yang datang kemudian, ditolong kemudian.

575.Terlampau cepat jadi lambat. Pekerjaan dilakukan tergesa-gesa sehingga hasilnya menjadi tidak baik.

576.Cepat tangan terjembakan, cepat kaki terlangkahkan, cepat mulut terkatakan. Bila melakukan sesuatu tanpa berpikir terlebih dulu dapat mendatangkan kesusahan.

577.Bagai cepu dengan tudungnya. Medapatkan teman yang sehaluan dan setujuan.

578.Bercerai tidak bertalak, bernikah tidak berkadi. Pertalian suami istri yang tidak sah.

579.Pelanduk di dalam cerang. Gelisah sekali tidak mendapat perlindungan.

580.Orang cerdik dapat mengubah yang salah menjadi benar dan yang buruk menjadi baik. Menyatakan diri sebagai orang yang pintar dan berani.

581.Siapa cerdik tinggi naik siapa calak menang berhitung. Omongan orang yang pandai bersilat lidah dipercayai.

582.Cerdik terkedik, bingung terjual. Orang yang terlalu cerdik terkadang melesat pikirannya, orang yang bodoh selalu dipermainkan oleh orang lain.

583.Buruk muka cermin dibelah. Karena aib sendiri menyalahkan orang lain.

584.Anak yang tak pandai berdandan dikatakan cermin yang kabur. Orang yang menyalahkan orang lain padahal dirinya sendiri yang mencontoh perilaku orang tersebut.

585.Daripada hidup bercermin bangkai lebih baik mati berkalang tanah. Lebih baik mati daripada hidup menanggung malu.

586.Bagaimana cetak begitu kuihnya. Segala sesuatu harus dilakukan menurut aturannya.

587.Seciak bak ayam sedencing bak besi. Seia sekata.

588.Bertukar beruk dengan cigak. Sama saja.

589.Memperjuali orang Cina penjahit. Mengajar seseorang yang sudah pandai.

590.Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Terus menuntu ilmu sampai ke mana pun.

591.Seperti cincin dengan permata. Cocok segala-galanya.

592.Cincin di jari nan suasa karena pandai melenggangkan. Sesuatu yang mutunya kurang baik dan tidak berharga menjadi tampak baik dan berharga karena dipakai dan dimanfaatkan dengan baik.

593.Mati berkapan cindai. Mati dengan membawa nama baik, kehormatan, dan sebagainya.

594.Rupa seperti cindaku. Sangat buruk dan menakutkan.

595.Jangan bercirit di periuk. Jangan keluar dari adat-istiadat.

596.Menghendaki cirit harimau tergantung di ekornya. Menginginkan sesuatu yang tak mungkin.

597.Tidak mudah membuat kanji, kurang haru cirit kambingan. Berhati-hati dalam mengurus sesuatu karena bila tidak cermat, urusan tersebut menjadi berantakan.

598.Temiakan cirit berendang. Dapat dikuasai orang lain karena terkena guna-guna.

599.Hidung dicium pipi digigit. Pura-pura menyayangi seseorang (kasih sayang semu).

600.Jalan mati lagi jangan dicoba. Berani menempujh risiko sekalipun harus mati.

601.Bagai kerbau dicocok hidung. Selalu menuruti kemauan orang lain.

602.Ke mana condong ke mana rebah. Sudah dilakukan menurut adat istiadat yang berlaku.

603.Condong yang akan menongkat, rebah yang akan menegakkan. Pemimpin yang membantu rakyat dalam kesusahan.

604.Condong ditumpil lemah dianduh. Orang yang sedang ditimpa kesusahan mendapatkan pertolongan.

605.Karena congkak badan binasa. Perihal seseorang yang mendapatkan kecelakaan karena sifatnya yang sombong.

606.Menconteng di arang muka. Menyebabkan aib.

607.Bagaimana contoh begitulah gubahnya. Setiap anak akan mencontoh orangtuanya.

608.Mengambil contoh kepada yang sudah mengambil tuah kepada yang menang. Aturan yang dicontoh diambil dari contoh yang memberi hasil pada waktu yang lalu.

609.Salah cotok berkerudung paruh, salah telah belah perut. Orang yang berbuat kesalahan dihukum menurut hukum yang telah ditentukan.

610.Salah cotok salah melantingkan. Jika berbuat salah harus berani memperbaiki.

611.Dabih menampung darah. Sangat tamak.

612.Belah dada lihatlah hati. Bermaksud untuk mengatakan yang sebenarnya.

613.Seluas dada tuma. Terlalu sempit.

614.Tiba di dada dibusungkan, tiba di perut dikempiskan. Mendapat perlakuan tidak adil.

615.Tepuk dada tanya selera. Berpikir sebelum mengambil keputusan.

616.Perahu bertambatan, dagang bertepatan. Melakukan sesuatu pada tempatnya.

617.Laki pulang kelaparan, dagang lalu ditanakkan. Orang lain ditolong, tetapi keluarga sendiri ditelantarkan.

618.Tergadai dagang ke Cina. Sesuatu yang tak mungkin diperoleh kembali.

619.Dagangan bersambut yang dia jual. Menceritakan cerita dari orang lain.

620.Bagai duri dalam daging. Sesuatu yang selalu menyakitkan hati.

621.Bangau, bangau aku minta leher, badak, badak aku minta daging. Merasa iri melihat kelebihan orang lain.

622.Sebusuk-busuk daging dikincah dimakan juga, seharum-harum tulang dibuang. Hanya membela kerabat yang telah berbuat salah, tetapi bila orang lain yang berbuat salah tidak berusaha untuk membela.

623.Seperti janggut pulang ke dagu. Sesuai dengan tempatnya.

624.Orang dahaga diberi air. Menolong orang yang dalam kesusahan.

625.Besar kayu besar dahannya. Makin besar pendapatan, makin banyak yang dibelanjakan.

626.Dahan pembaji batang. Orang kepercayaan yang menyalahgunakan harta benda tuannya.

627.Biar dahi berluluk asal tanduk mengena. Biar bagaimanapun asal maksud tercapai.

628.Siapa pun menjadi raja, tanganku ke dahi juga. Siapa pun yang menjadi raja, tetap dihormati.

629.Dahi kiliran taji. Dahi yang licin.

630.Dahi sehari sebulan. Dahi yang elok bentuknya.

631.Yang dahulu mendapat yang kemudian ketinggalan. Pemimpin sebelumnya yang pandai diganti pemimpin bodoh sehingga anggotanya tertinggal dalam ilmu dan hal lainnya.

632.Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.bersusah payah terlebih dahulu agar senang di kemudian hari.

633.Dahulu parang sekarang besi, dahulu sayang sekarang benci. Perubahan hati seseorang yang semula menyayangi kini membenci.

634.Dahulu bajak daripada Jawi. Lebih awal, paling depan.

635.Minta darah pada daing. Meminta pertolongan pada orang yang tidak mau memberikan pertolongan.

636.Ke bukit sama mendaki, ke lurah sama menurun. Seia sekata.

637.Gunting makan di dalam. Melakukan sesuatu secara diam-diam.

638.Menggunting dalam lipatan. Mencelakakan teman sendiri.

639.Masak di dalam mentah di luar. Perihal suatu yang semu.

640.Musuh dalam selimut. Orang terdekat yang diam-diam berkhianat.

641.Kilat di dalam kilau. Tujuan yang tersembunyi dalam tingkah laku atau pembicaraan seseorang.

642.Dalam berselam, dangkal berjingkat. Pandai menyesuaikan diri.

643.Dalam laut boleh diduga, dalam hati siapa tahu. Sulit menduga pikiran dan hati seseorang.

644.Dalam menyelam cetek bertimba. Cukup dengan rezeki sedikit bila tidak mendapat rezeki banyak.

645.Dalam sudah keajukan dangkal sudah bersebarangan. Maksud kurang baik dari seseorang yang telah diketahui.

646.Dalam tetangkai orang. Perihal seorang gadis yang akan bertunangan atau menikah.

647.Hendak seribu daya tak hendak seribu dalih. Bila memiliki kemauan, pasti akan menemui jalan terbaik.

648.Hendak damai dilawan damai, hendak perang giling peluru. Memilih berdamai atau berkelahi.

649.Bila tak lalu dandang air, di gurun dirangkakkan (ditonjokkan). Menggunakan sekuat daya dan kemampuan untuk mencapai tujuan.

650.Memecah damar alas pagu. Menjual harta peninggalan untuk keperluan yang memerlukan biaya besar.

651.Bagai anak dara mabuk andam. Lemah dan lesu namun tidak berpenyakit.

652.Bersukat darah, bertimbang daging. Terus melawan sampai mati.

653.Bersukat darahlah, baru kuberi. Lebih baik mati daripada menyerah kalah.

654.Bagai menakik darah, mati dari alu. Mendapat sedikit keuntungan meskipun sudah bekerja keras.

655.Minta darah pada dabung. Meminta pertolongan kepada orang yang tidak bersedia menolong.

656.Menakik darah di alu. Meminta sesuatu pada orang yang tidak berpunya.

657.Darah baru setumpuk pinang. Masih terlalu muda.

658.Hilang darah diganti darah. Nyawa diganti dengan nyawa.

659.Lepas putih hitam tak dapat. Tidak mendapatkan sesuatu yang dinanti-nantikan, sedangkan yang berada di tangan sudah dilepaskan.

660.Mendapat lebih daripada kehilangan. Kiasan terhadap orang yang mendapatkan sesuatu yang merugikan dirinya.

661.Mendapat sama berlaba, kekurangan sama merugi. Seia sekata.

662.Mendapat durian runtuh. Mendapatkan sesuatu tanpa disangka-sangka.

663.Muka berpandangan, budi kedapatan, kasih bagai lama juga. Tidak berubah pandangan terhadap seseorang meskipun orang yang bersangkutan telah berbuat serong.

664.Siapa cepat dialah yang dapat. Berusaha dengan cepat untuk mendapatkan sesuatu.

665.Seperti orang darat jolong menurun. Tercengang-cengang.

666.Di laut angkatan, di darat kerapatan. Kekuatan di laut bergantunng pada angkatan perang, sedangkan kekuatan di darat bergantung pada persatuan.

667.Datang seperti ribu, pergi seperti angin. Penyakit yang cepat datang dan susah pergi.

668.Datang tampak muka, pulang tampak punggung. Mengutamakan sopan santun bila bertamu atau meninggalkan rumah orang lain.

669.Datang tak berjemput, pulang tak berhantar. Tamu yang tidak penting.

670.Sedatar saja lurah dengan bukit. Tidak ada perbedaan antara yang kaya dan yang miskin.

671.Datar bak lantai papan, licin bak dinding cermin. Keputusan yang adil.

672.Bersembunyi di balik daun sehelai. Tidak sempurna dalam merahasiakan sesuatu.

673.Bagai berpayung dengan daun pisang. Berlindung pada tempat yang memadai.

674.Bagai daun pembungkus nasi, nasi habis, daun dibuang. Digunakan pada saat diperlukan saja dan dicampakkan setelah tidak diperlukan lagi.

675.Tiada angin bertiup masakan daun kan bergoyang. Suatu hal terjadi karena ada yang menyebabkannya.

676.Tiadakah angin  bertiup di mana daun bergerak? Suatu hal terjadi karena ada yang menyebabkannya.

677.Daun nipah dikatakan daun labu. Salah paham karena malas bertanya.

678.Daun dapat dilayangkan, getah jatuh ke perdu juga. Memperlakukan sesuatu yang tidak sama pada anak sendiri dan kepada anak orang lain.

679.Daunnya jatuh melayang, buahnya jatuh ke pangkal juga. Yang berguna tetap tinggal, sedangkan yang tidak berguna dibuang.

680.Dunia tidak seluas daun kelor. Jangan cepat berputus asa, masih banyak yang lain.

681.Umpama ayakan dawai. Pekerjaan yang dilakukan dengan tidak cermat.

682.Bagai dawat dengan kertas. Tidak dapat dipisahkan.

683.Ibarat dawat dengan kertas, bila boleh renggang terlepas. Perihal orang yang tak terpisahkan.

684.Alang-alang berdawat biarlah hitam. Melakukan sesuatu jangan setengah-setengah.

685.Orang mau seribu daya, tidak mau seribu dalih. Bila menghendaki, pasti ada jalan, bila tidak menghendaki, pasti mencari dalih.

686.Biduk tiris pendayung patah. Kiasan terhadap nasib buruk karena tidak dapat mengandalkan atau membanggakan sesuatu.

687.Berdayung ke hilir tertawa buaya. Melakukan pekerjaan sepele, yang dapat dikerjakan semua orang.

688.Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali melakukan pekerjaan dapat mencapai dua tiga tujuan.

689.Sampan upih pendayung bilah. Mengerjakan sesuatu dengan peralatan yang tidak memadai.

690.Mendebik mata perang. Melawan orang yang memiliki kekuasaan.

691.Mendebik dada. Seseorang yang memperlihatkan keberaniannya.

692.Serta lalu kucing, tikus tiada berdecit lagi. Seseorang yang merasa ketakutan.

693.Bagai padi hendakkan dedak, bagai laki hendakkan kendak. Perihal orang yang selalu menolak pemberian baik dan selalu mengerjakan sesuatu yang buruk.

694.Bagai api dalam dedak. Kejahatan yang sembunyi-sembunyi.

695.Minta dedak kepada orang yang mengubik. Meminta sesuatu kepada orang yang tak berpunya.

696.Seperti dedalu api hinggap di pohon kayu; hinggap di batang, batangnya mati; hinggap di ranting, rantingnya patah. Orang jahat yang bersatu dengan orang baik akan merusak orang yang baik.

697.Laksana bunga dedap, merah ada berbau tidak. Perihal orang yang rupawan, tetapi tidak berbudi.

698.Cakap berdegar-degar, tahi sangkut di gelegar. Orang yang besar cakap, tetapi tidak mengerjakan apa-apa.

699.Degar-degar perapatkan. Merapatkan hubungan antara suami dan istri yang sempat renggang.

700.Degar-degar merpati. Perselisihan antara suami dan istri.

701.Bagai dekan di bawah pangkal tubuh. Perihal seseorang yang dapat menyimpan rahasia dengan baik.

702.Seperti duduk dekat api. Gelisah karena berdekatan dengan orang yang pemarah.

703.Dekat tak bercapai, jauh tak berantara. Tidak dapat meraih sesuatu yang diidam-idamkan.

704.Dekat dapat ditunjal, jauh dapat ditunjuk. Perihal perkataan yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya.

705.Dari jauh angkat telunjuk, kalau dekat diangkat mata. Perihal orang yang membahayakan, dari jauh ditunjuk setelah dekat diperingatkan dengan pandangan mata.

706.Seperti tudung dengan delamak. Tidak dapat tercerai lagi.

707.Bagai delima merekah. Kiasan pada bibir yang indah.

708.Merekahkan diri bagai buah delima. Orang sombong yang selalu menunjukkan kelebihannya.

709.Seperti daun delima dengan bunganya. Perihal hidup yang tiada artinya di masyarakat.

710.Bagai anjing melintang denai. Orang yang sangat gembira; orang yang teramat sombong.

711.Bagai denai gajah lalu. Keadaan yang porak poranda.

712.Seperti denak mencari lawan.

713.Didenda dengan emas yang habis, dipancung dengan pedang yang hilang. Tidak melaksanakan hukuman dan tidak membayar denda karena menghendaki perdamaian.

714.Orang berdendang di pentasnya, orang beraja di hatinya. Setiap orang memiliki kekuasaan di tempatnya masing-masing.

715.Orang berdendang di pentasnya. Orang yang memiliki kekuasaan di tempat masing-masing.

716.Sambil berdendang biduk hilir. Sambil mengerjakan satu pekerjaan, terselesaikan pekerjaan lainnya.

717.Sudah berdendang seorang saja. Kelakuannya seperti orang yang tak waras.

718.Dendang gonggong telur. Orang yang berwajah buruk karena berdandan yang tidak pantas membuatnya semakin buruk.

719.Didengar ada, dipakai tidak. Tidak mendengarkan nasihat, masuk telinga kiri, keluar dari telinga kanan.

720.Dengar cakap enggang makan buah beluluk dengar cakap orang, terjun masuk lubuk. Berpikir sebelum bertindak dan tidak menghiraukan omongan orang.

721.Yang sejengkal takkan jadi sedepa. Sesuatu yang sudah pasti takkan pernah bisa berubah.

722.Yang sehasta jadi sedepa. Melebihkan pembicaraan.

723.Seperti Belanda minta tanah, diberi sehasta minta sedepa. Orang tamak.

724.Diberi sehasta minta sedepa. Perihal orang yang tamak, diberi sedikit, minta banyak.

725.Depan belakang lain bicara. Seseorang yang munafik, tidak setia.

726.Deras datang deras kena. Terlalu cepat.

727.Deras datang dalam kena. Mengerjaka sesuatu dengan tergesa-gesa hanya akan mendatangkan kerugian.

728.Masuk dalam kawanan gajah bordering. Melakukan adaptasi dengan adat-istiadat.

729.Destar habis, kopiah luluh. Menanggung kerugian yang besar.

730.Destar hancur, kopiah hancur. Perbuatan boros sehingga mendapatkan kerugian.

731.Yang disangka tak menjadi, yang diam boleh ke dia. Orang yang sudah bertunangan, tetapi menkah dengan orang lain.

732.Bukannya diam penggali karat, melainkan diam ubi berisi. Diamnya orang berilmu adalah berpikir, sedangkan diamnya orang yang bodoh adalah sia-sia.

733.Kalau tidak bermeriam baiklah diam. Bila tidak berusaha harus menerima nasib dan tidak banyak berkehendak.

734.Diam di bandar tak meniru, diam di laut tidak masin. Perihal orang yang lama menetap di suatu tempat, tetapi tidak mau menuntut ilmu yang bermanfaat dari tempat tersebut.

735.Diam ubi lagi kental, diam besi lagi sentil. Diamnya orang berilmu adalah berpikir, sedangkan diamnya orang yang bodoh adalah sia-sia.

736.Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Bila melakukan sesuatu dengan sabar dan tekun, niscaya akan berhasil.

737.Dikit bekerja banyak berantun. Perihal orang malas yang tidak mau berusaha untuk melakukan sesuatu.

738.Dikit hujan banyak yang basah. Kecelakaan kecil dapat menyebabkan kecelakaan besar.

739.Jadi dinding tasak perti permainan. Perihal seseorang yang menjadi tumpuan harapan.

740.Mendinding sampai ke laut, mengempang sampai ke seberang. Jangan mengerjakan sesuatu dengan setengah-setengah.

741.Kain pendinding miang, uang pendinding malu. Segala sesuatu digunakan sebagaimana fungsinya.

742.Dinding teretas, tangga terpasang. Bukti yang memadai untuk menyatakan suatu kejahatan.

743.Nasi tak dingin, pinggang tak retak. Perihal orang yang melakukan sesuatu dengan hati-hati.

744.Tak menghangat mendingin. Tak menghiraukan, tak peduli.

745.Mendirikan benang basah. Melakukan pekerjaan yang mustahil.

746.Duduk sama rendah, berdiri sama tegak. Sejajar dalam martabat atau tingkatnya.

747.Mendongak rupa kerbau jantan kemudian. Orang yang senang menunjukkan kesombongannya.

748.Bajak biasa terdorong, perkataan biasa terlanjur. Memohon maaf atas kata-kata yang telah diucapkan.

749.Kaki terdorong badan merasa, lidah terdorong emas pedahannya. Selalu menepati janji dan berani mengambil risiko atas perbuatannya.

750.Orang pendorong gerbang kena. Orang yang tidak pernah bersabar akan menderita kerugian.

751.Terdorong kaki badan merasa, terdorong lidah emas pedahannya. Berani berbuat berani bertanggung jawab.

752.Antara dua tengah tiga. Perihal seseorang yang hampir meninggal karena sakit, perihal perkara yang tampak berbeda, tetapi sebenarnya sama.

753.Karam dua basah seorang. Dua orang bersalah, hanya satu yang mendapat hukuman.

754.Dalam dua tengah tiga. Perihal sesuatu yang masih diragukan atau belum pasti.

755.Dua kali dua empat. Segala sesuatu dilakukan menurut aturannya.

756.Belum duduk belunjur dulu. Sudah bergirang hati sebelum tercapai apa yang dikehendaki.

757.Belum duduk sudah meluncur. Melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa.

758.Belum duduk hendak belunjur. Merasa sudah memiliki barang yang sama sekali belum dikuasainya.

759.Jika kita duduk di ciu emas sekalipun, lamun hati tiada senang juga. Memuliakan orang yang sedang bersusah hati tidak akan berhasil karena ia akan tetap berduka.

760.Dahulu duduk dari cangkung. Cepat marah sebelum mengetahui perkara sebenarnya.

761.Duduk berkisar tegak berpaling. Selalu ingkar janji.

762.Duduk berkelompok tegak berpusu. Duduk pada tempat yang sesuai,

763.Duduk meraut ranjau, tegak meninjau jarak. Orang yang menggunakan waktunya untuk bekerja, tidak pernah membuang waktu.

764.Duduk seperti kucing, melompat seperti harimau. Seorang yang pendiam, tetapi tangkas bekerja dan berpikir.

765.Duduk seorang bersempit-sempit, duduk banyak berlapang-lapang. Pendapat orang banyak lebih berbobot daripada pendapat perorangan.

766.Kalau tak berduit, ke mana pergi tercuit-cuit. Tidak banyak berkehendak bila keadaan lemah dan miskin.

767.Seduit dibelah tujuh. Sangat miskin.

768.Didukung disangka orang sakit, kiranya orang kekenyangan. Menolong orang yang tidak membutuhkan pertolongan.

769.Biasa diayak dibawa ke dulang. Kebiasaan diri sendiri disangka kebiasaan orang lain.

770.Bagai dulang dengan tudung saji. Pasangan yang sangat serasi.

771.Lain di dulang lain disayah lain di orang lain di awak. Tidak dapat menyamakan orang lain dengan diri sendiri.

772.Lain dulang lain kaki lain orang lain hati. Setiap orang memiliki kesenangan masing-masing.

773.Mengata dulang aku serpih, mengata orang awak yang lebih. Mencela orang lain padahal diri sendiri lebih buruk.

774.Menepuk air di dulang. Membuka aib sendiri.

775.Onde-onde di alas dulang, sebelum habis sebelum pulang. Tekad yang bulat untuk menuntaskan masalah.

776.Berdiang di abu dingin. Hal orang kecewa terhadap suatu pekerjaan, baru saja dimulai sudah mendapatkan kesusahan.

777.Bagai pucuk pisang di diang. Lemah tidak bertenaga karena sakit.

778.Sambil berdiang nasi masak, sambil berdendang biduk hilir. Sekali melakukan pekerjaan dapat menuntaskan berbagai masalah.

779.Sambil berdiang nasi masak. Sambil mengerjakan satu pekerjaan terselesaikan pekerjaan lain.

780.Pergi empap pulang emban. Kembali modal, tidak untung tidak rugi.

781.Sudah eban dihela pula. Mendapatkan berbagai kemalangan.

782.Zaman beredar musim berganti. Keadaan selalu berubah-ubah.

783.Betul-betul ekor anjing ada bengkoknya. Orang jahat tetaplah jahat walaupun memiliki sifat baik.

784.Bagai lintah dipotong ekor. Melakukan sesuatu dengan selayaknya.

785.Ekor anjing berapa pun diurut tiada betul. Orang yang wataknya sekalipun berusaha berubah atau diperbaiki, dia akan mengulangi kejahatannya.

786.Mengekor mancit. Semakin lama semakin berkurang.

787.Anjing bersepit ekor. Lari.

788.Kepala dilepas tapi ekor dipegang. Perihal seseorang yang tidak diberi kebebasan penuh.

789.Kumbang tak hanya seekor. Masih ada calon lain yang bersedia mencintai.

790.Tidak tentu ekor kepala. Perihal rupa yang buruk dan gemuk.

791.Dipegang ekornya mendongak kepalanya, dipegang kepalanya menjungkit ekornya. Orang yang tidak dapat dipercaya.

792.Habis minyak sepasu, ekor anjing takkan lurus. Orang yang watak dasarnya sudah jahat sulit untuk diubah menjadi baik.

793.Susu di dada tak dapat dielakkan. Sudah menjadi kodrat alam.

794.Bagai elang menyongsong angin. Kiasan terhadap seseorang yang tampak gagah perkasa dalam menantang musuh.

795.Elang terbang mengawan, agas hendak mengawan juga. Orang hina yang meniru-niru orang kaya.

796.Elang disambar punai tanah. Orang yang berkuasa dikalahkan orang yang lemah.

797.Ayam seekor disambar elang. Milik satu-satunya yang hilang.

798.Kalau tak ada elang, belalang menjadi elang. Bila tidak ada orang yang pandai, orang bodoh akan mengaku pandai.

799.Rezeki elang takkan dimakan musang. Rezeki berada di tangan Tuhan.

800.Sepantun elang dengan ayam, lambat laun disambar juga. Tidak baik mencampurkan gadis dan bujang tinggal dalam satu rumah.

801.Erdik elang bingung sikkih, lamun murai terkecoh juga. Orang kaya, sekalipun dia cerdik atau bodoh, tetap membuat orang yang rendah merasa terperdaya.

802.Dahulu elang pulau, kini telah menjadi burung pungguk. Orang yang semula mulia atau kaya yang berubah menjadi hina karena hartanya telah habis.

803.Elok bahasa kan bagai hidup, elok budi kan bakal mati. Bahasa yang baik membuat orang disayang seumur hidup, budi yang baik akan dikenang sepanjang masa.

804.Elok arak di hari panas. Dalam mengerjakan sesuatu akan lancar bila semua sarana memadai.

805.Elok diawak ketuju di orang. Memberikan tenggang rasa kepada orang lain.

806.Nan elok dipakai nan buruk dibuang. Mempergunakan sesuatu yang masih bisa dipergunakan, membuang sesuatu yang tidak berguna.

807.Bagai emak mandul baru beranak. Merasa senang karena sesuatu yang diidam-idamkan dapat diraih.

808.Bermimpi mendapat emas takkan membuat pura, bermimpi mendapat padi takkan membuat lumbung. Menganggap mimpi suatu pertikaian dan tidak memanjang-manjangkan suatu pertikaian.

809.Emas berpeti kerbau berkandang. Menyimpan harta benda di tempatnya.

810.Emas juga dipandang orang. Harta dan kekayaan dapat membuat seseorang menjadi terhormat.

811.Emas disangka loyang. Orang miskin disangka orang jahat padahal sangat baik.

812.Menyeberangi jembatan emas. Mencapai suatu kebahagiaan.

813.Kalau ada beremas hidup, tiada beremas mati. Merasa senang karena mempunyai pencaharian yang tetap.

814.Kalau ada emas hidup tak ada emas mati. Jika mempunyai penghasilan tetap, hidup takkan mati.

815.Kalau tidak emas sepiak, kerja di mana boleh layak? Jika memiliki kekayaan, semua maksud dapat tercapai.

816.Kaki bertarung emas padanannya, mulut terlanjur emas padanannya. Segala sesuatu yang sudah dijanjikan harus ditepati agar tidak ada tanggung jawab dan risiko di balik janji tersebut.

817.Karena emas kemas, karena padi menjadi. Bila memiliki harta, segala yang diinginkan akan terjadi.

818.Berbau bagai embacang, berjejak bagai berkik. Perihal kejahatan yang sudah diketahui.

819.Berbau bagi embacang. Mengetahui maksud yang kurang baik.

820.Bagai embacang dengan kuwini. Perihal dua orang yang memiliki kemampuan sama bagusnya.

821.Busuk-busuk embacang. Tampak tidak baik padahal sangat baik.

822.Menyimpan embacang busuk. Menyimpan rahasia yang sudah diketahui banyak orang.

823.Seperti embacang buruk kulit. Berwajah buruk tetapi berhati mulia.

824.Masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang kerbau menguak.

825.Hidup segan mati tak embuh. Sering sakit-sakitan.

826.Bagai embuh di atas rumput. Perihal cinta kasih yang lekas menghilang.

827.Bagai embuh di ujung daun. Niat, maksud yang selalu berubah.

828.Siang berpanas malam berembun. Sangat miskin, tidak bertempat tinggal.

829.Seperti embun di ujung rumput. Kasih sayang dan kesenangan tak ada yang abadi.

830.Besar bagai diembus-embus. Anak kecil yang cepat tumbuh menjadi besar.

831.Mengalau, menyepak; menghela, mengembus. Perihal wanita yang sulit diatur.

832.Seembus naik seembus turun. Orang yang sedang sekarat.

833.Empang sampai ke laut, dinding sampai ke langit. Perselisihan keluarga yang tidak dapat didamaikan lagi.

834.Dada terempang peluru oleh ilalang. Kehendak orang kuat yag terhalang oleh yang lemah.

835.Pergi berembap  pulang eban. Kembali modal.

836.Sudah diempas dihela pula. Mendapatkan musibah beruntun.

837.Empat gasal lima genap, dikendur berdenting-denting, ditegang berjelang-jelang. Bila dikerasi bersikap lembut, bila dilembuti bersikap keras.

838.Empat susu dua perut. Berbeda dalam keturunan, derajat, martabat.

839.Tahu empat sesukat saja. Lurus saja tidak perlu ada diplomasi.

840.Pahit bagai empedu. Sesuatu yang menimbulkan kesusahan.

841.Bagai empedu lekat di hati. Persahabatan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan.

842.Emping berantah. Orang yang kebal terhadap benda tajam.

843.Emping terserak hari hujan. Orang yang menghadapi kesulitan untuk mengelola usahanya.

844.Sudah biasa makan emping. Banyak pengalaman.

845.Batu pun empuk jangankan hati manusia. Kata-kata lembut dapat melunakkan hati yang keras.

846.Enak jangan langsung ditelan, pahit jangan langsung dimuntahkan. Jangan cepat menolak atau menerima sesuatu.

847.Enak makan dikunyah, enak kata diperkatakan. Mengerjakan pekerjaan yang melibatkan banyak orang harus dirundingkan terlebih dahulu.

848.Enak kata kukuran, sakit kata kepala. Kiasan dalam mengerjakan sesuatu, terasa enak bagi yang memerintahkan, tidak enak bagi yang diperintahkan.

849.Enak di awak, enak pula di orang. Dalam mengerjakan sesuatu harus sama-sama enak antara diri kita dengan orang lain.

850.Bagai enau dalam belukar, melepaskan pucuk masing-masing. Sama-sama mempertahankan pendapat masing-masing.

851.Bukan sigai yang menampar enau. Dalam perjodohan, wanita lebih aktif daripada laki-laki.

852.Enau memanjat sigai. Seorang wanita yang mencari laki-laki.

853.Enau sebatang dua sigainya. Satu pekerjaan dengan dua pemimpin tidak akan berhasil.

854.Mati enau tinggal di rimba. Nama seseorang yang hina sudah mati tidak pernah disebut lagi.

855.Mengendap di balik punggung. Menyembunyikan sesuatu, tapi mudah diketahui orang lain.

856.Mengendap di balik ilalang sehelai. Menyembunyikan sesuatu, tapi mudah diketahui orang lain.

857.Mengendap di balik lumbung. Menyembunyikan sesuatu, tapi mudah diketahui orang lain.

858.Badan sakit boleh diobat, orang enggan apakah daya. Jika hati telah mengatakan tidak akan sulit menemukan jalan keluar.

859.Enggan berdayung, hanyut serantau. Pemimpin yang malas akan menyebabkan bawahannya malas pula.

860.Enggan seribu daya, mau sepatah kata. Orang yang banyak berdalih karena tidak menyukai sesuatu.

861.Pipit meminang enggang. Orang yang miskin meminang orang yag kaya.

862.Pipit hendak menjadi enggang. Orang yang miskin meniru tingkah laku orang kaya.

863.Burung pipit sama enggang mana boleh sama terbang? Perjodohan yang tak sepadan takkan berhasil.

864.Enggang lalu atal jatuh, anak raja ditimpanya. Seseorang dituduh melakukan kejahatan karena berada di tempat kejadian.

865.Enggang apa kepada enggang, orang apa kepada orang. Memikul suka duka seorang sendiri.

866.Enggang sama enggang, pipit sama pipit juga. Sesuatu yang berkumpul menurut kelompoknya.

867.Mendengarkan cakap enggang. Binasa karena mendengar bujukan musuh.

868.Makanan enggang hendak dimakan pipit. Melakukan hal yang tidak sepadan dengan kemampuannya.

869.Selama enggang mengeram. Sangat lama.

870.Bagai tidur di atas enjelai. Sangat gelisah.

871.Entimun bungkuk. Seorang yang nama dan keberadaannya tidak dianggap oleh orang lain.

872.Seumpama telur sesarang, dierami induknya. Perihal anak mengalami kesuksesan karena dididik dengan baik oleh orangtuanya.

873.Mengereng-ereng bagai sangkal makan. Bila sedang marah seseorang tidak dapat mengontrol sikapnya dan akan berlaku di luar batas, terutama kepada musuhnya.

874.Bagai pucuk eru, ke mana condong angiin ke situ rebahnya. Tidak berpendirian.

875.Bagai pucuk eru. Tidak berpendirian.

876.Berbilang dari esa mengaji dari alif. Melakukan sesuatu harus dari permulaan.

877.Esa hilang dua terbilang. Berusaha terus-menerus mencapai tujuan.

878.Gabak di hulu tanda akan hujan, cawang di langit tanda akan panas. Berhati-hati karena ada pertanda akan terjadi sesuatu.

879.Gadai terdorong ke Cina. Terlanjur, tak dapat dicabut kembali.

880.Mengadai tergolong ke pajak, sehari sebulan juga. Suatu pekerjaan kecil yang terlanjur dikerjakan risikonya sama dengan pekerjaan yang besar.

881.Tercacak bagai kambing tergadai. Tertegun.

882.Pucuk leban gading gajah, bekerja segan makan gagah. Malas bekerja walaupun dalam keadaan sehat.

883.Gading gajah yang sudah dikeluarkan bolehkah dimasukkan lagi? Sesuatu yang telah ditentukan tidak dapat diubah lagi.

884.Baru mendapatkan gading bertuah. Mendapatkan sesuatu yang berharga.

885.Semahal-mahal gading, kalau patah tak berguna. Orang yang mulia, jika sekali saja berbuat suatu kesalahan, tidak akan dipandang lagi.

886.Telah dapat gading bertuah, terbuang tanduk kerbau mati. Mendapatkan yang lebih baik, membuang yang lama.

887.Tak ada gading yang tak retak. Tidak ada sesuatu yang sempurna.

888.Bagai gadis julung bersulang. Orang yang angkuh karena merasa masih keturunan bangsawan; orang yang sangat sombong karena mendapatkan sesuatu yang sangat diidam-idamkan.

889.Bagai gadis julung menumbuk. Giat mengerjakan pekerjaan yang baru.

890.Bagai gadis sudah bersuami. Wanita yang memiliki perilaku tidak sopan.

891.Bergaduk-gaduk kiri, sakunya diterbangkan angin. Orang yang suka menyombongkan diri padahal tidak berpunya.

892.Bak rasa ubi pulang gadung. Orang hina yang merasa dirinya mulia.

893.Gagak putih bangau hitam. Menantikan sesuatu yang tak pernah ada.

894.Gagak lalu punggur rebah. Orang besar yang berperilaku tidak adil kepada yang lemah.

895.Bagai gagak menggonggong telur. Wanita berwajah buruk berdandan yang hanya menambah buruk parasnya.

896.Menanti putih gagak hitam, buntar-buntar daun lalang, luas-luas daun merunggi, sampai tumbuh damar cindapung. Menantikan sesuatu yang tak pernah ada.

897.Seperti burung gagak pulang ke benua. Seseorang yang pulang dari perantauan, tetapi keadaannya masih sama seperti sebelum merantau.

898.Selama gagak hitam, selama air hilir. Suatu keadaan yang abadi, selama-lamanya.

899.Seperti sirih pulang ke gagangnya. Kembali pada keadaan aslinya.

900.Gaharu dimakan kemenyan berbau. Orang yang berusaha menunjukkan kelebihannya agar mendapat kepercayaan dari orang lain.

901.Sudah gaharu cendana pula, sudah tahu bertanya pula. Pura-pura tidak tahu, berlagak bodoh.

902.Sudah gaharu cendana pula. Pura-pura tidak tahu, berlagak bodoh.

903.Gajah pengangkat lada, kuda pelejang bukit. Perihal seorang laki-laki yang selalu menjadi budak/orang suruhan.

904.Gajah pengangkut lada. Orang yang tak kenal lelah.

905.Gajah yang dikalahkan oleh pelanduk. Orang yang berkuasa dikalahkan oleh orang yang lemah.

906.Gajah bergajah-gajah, pelanduk mati tersepit. Pertengkaran antarnegara atau orang besar akan merugikan negara/orang kecil.

907.Gajah memamah aris, baik diikat kera kecil yang memakan buah. Daripada mengharapkan sesuatu yang besar yang tidak berada di tangan, lebih baik menggunakan yang sedikit yang ada di tangan.

908.Gajah mati karena gadingnya. Mendapatkan kecelakaan karena keangkuhan sendiri.

909.Gajah mati tulang setimbun. Orang kaya yang mati dengan meninggalkan harta yang banyak.

910.Gajah terdorong karena gadingnya, harimau terlompat karena belangnya. Kebiasaan yang dilakukan orang besar karena kekayaan, perkataan, dan kekuasaan yang mereka miliki.

911.Gajah di pelupuk mata tampak, semut di seberang lautan tak tampak. Mengetahui kejelekan orang tetapi kejelekan sendiri diabaikan.

912.Gajah dipandang seperti kuman. Orang yang marah tak gentar terhadap lawan yang tangguh.

913.Gajah ditelan ular, lidi. Seorang pria keturunan bangsawan yang mendapat istri dari golongan biasa.

914.Bangkai gajah tak dapat ditutup oleh daun nyiru. Kesalahan besar tidak dapat disembunyikan.

915.Menangkap gajah yang liar itu dengan gajah juga. Jika bermaksud menangkap penjahat ulung, hendaknya dengan menggunakan penjahat yang ulung pula.

916.Kalau gajah hendak dipandang gadingnya, kalau harimau hendaknya dipandang belangnya. Memecahkan suatu perkara hendaknya berdasarkan bukti-bukti nyata, bukan hanya dengan mempercayai kabar angin.

917.Seperti gajah putih ditambat. Merugikan karena harus menanggung kesengsaraan hidup orang lain.

918.Seperti gajah masuk kampung. Orang yang memiliki kekuasaan bertindak sewenang-wenang di lingkungan orang yang lemah.

919.Seperti gajah rompong  belalai. Raja yang kehilangan kekuasaannya.

920.Seperti gajah dengan sengkelanya. Orang yang mulia dan besar pun pasti akan mendapatkan kesusahan.

921.Sedangkan gajah yang besar dan berkaki empat lagi terkadang terserondong dan jatuh tersungkur ke bumi.

922.Orang besar adakalanya kehilangan kebesarannya, karena itu jangan mengagung-agungkan kebesaran yang dimiliki.

923.Bergalah hilir tertawa buaya, bersuluh di bulan terang tertawa harimau. Perbuatan yang sia-sia dicemoohkan orang berakal.

924.Bagai galah di tengah arus. Tidak ada sesuatu pun yang abadi.

925.Bagai galah dijual. Harta yang musnah.

926.Matahari sepenggalah tingginya. Kira-kira jam tujuh pagi.

927.Seperti bergalah di tengah arus. Selalu diliputi kecemasan.

928.Segan bergalah hanyut serantau. Karena malas berusaha mendapatkan kesusahan.

929.Asing biduk galang ditetak. Lain yang diinginkan lain yang didapatkan.

930.Pergi ke pulau batu digalas. Menemui masalah karena mencampuri urusan orang lain.

931.Galas tergolong kepada Cina. Perbuatan yang telah terlanjur dikerjakan.

932.Galas habis segulung tandas, lamun dihitung rugi juga. Perihal pekerjaan yang tidak mendapatkan keuntungan.

933.Bagai menyandang galas tiga; berat tak seberapa rintangnya yang lebih. Pekerjaan yang tidak berat, tetapi sangat sulit dikerjakan dan menghasilkan keuntungan sedikit.

934.Sambil menyeruduk galas lalu. Sambil bersenang-senang tercapai tujuan.

935.Tiada beban batu digalas. Mencari kesukaran.

936.Dilihat galas berlaba dihitung pokok termakan. Seperti mendapatkan keuntungan padahal merugi.

937.Tergali pada bajan emas. Tertarik pada keuntungan besar.

938.Diam penggali berkarat, diam ubi berisi. Ilmu pengetahuan yang lama tidak dipergunakan dengan mudah akan terlupakan.

939.Gamak-gamak seperti menyambal. Mencoba-coba suatu perbuatan.

940.Orang penggamang mati jatuh, orang pendingin mati hanyut. Orang yang merasa takut-takut untuk mencapai kehendaknya.

941.Tidak lalu ganduhnya. Tipu muslihat yang tidak mengenai sasaran.

942.Bagai mentimun bungkuk, keluar tak ganjil masuk tak genap. Tak berguna sama sekali.

943.Keluar tak ganjil masuk tak genap. Perihal seseorang yang tidak dipandang dalam masyarakat, tidak bisa melakukan apa-apa.

944.Penuh sudah bagai menggantang. Benar-benar penuh.

945.Bagai menggantang anak ayam. Melakukan pekerjaan yang sulit.

946.Bagai menggantang asap. Melakukan sesuatu yang teramat sulit.

947.Melukut di tepi gantang. Masalah kecil yang terabaikan.

948.Mengisi gantang pesuk. Mengerjakan sesuatu yang tidak menguntungkan.

949.Segantang takkan jadi secupak. Nasib manusia tak dapat diubah lagi oleh manusia.

950.Secupak takkan jadi segantang. Suratan takdir tak dapat diubah lagi.

951.Pengganti hidup berkeredaan, pengganti mati berkebulatan. Mengadakan mufakat untuk mencari pengganti ketua.

952.Patah tumbuh hilang berganti. Sesuatu yang hilang pasti akan ada gantinya.

953.Putus tali tempat bergantung, terban tanah tempat berpijak. Tak ada tempat bergantung dan berlindung lagi.

954.Bergantung pada akar lapuk. Menyandarkan hidup kepada orang miskin.

955.Bergantung pada rambut sehelai. Harapan yang sangat tipis.

956.Bergantung sehasta tali. Istri yang ditinggalkan suaminya tetapi tidak bercerai.

957.Menggantungkan kain kotor di muka pintu. Orang pandir yang membuat dirinya sendiri malu.

958.Asal selamat ke seberang, biar bergantung di ekor. Seseorang yang sangat membutuhkan pertolongan akan menerima segala macam pertolongan yang diberikan padanya.

959.Digantung tinggi dibuang jauh. Tidak memiliki kekuasaan.

960.Digantungkan tinggi digalikan dalam. Suatu perjanjian bersyarat.

961.Gar gar kata gelegar, rasuk juga menahannya. Jangan percaya pada orang lain dalam menyelesaikan perkara.

962.Garam jatuh ke air. Perihal nasihat yang cepat meresap ke dalam hati.

963.Garam tumpah apakah tempatnya? Orang kecil yang meninggal dunia tak akan dihiraukan.

964.Garam dikulumnya tak hancur. Bisa menyimpan rahasia.

965.Bagai bubur tak bergaram. Perihal sesuatu yang tak berisi.

966.Laksana garam dengan susu. Persahabatan yang tidak cocok.

967.Memperhujankan garam sendiri. Menceritakan kejelekan keluarga sendiri.

968.Membuang garam ke laut. Memberikan pertolongan kepada orang yang tidak memerlukan pertolongan.

969.Siapakah yang mau menghujankan garamnya? Tak ada satu orang pun yang mau menunjukkan aibnya sendiri.

970.Seperti garam dengan asam. Sangat cocok, terutama dalam perjodohan.

971.Sayang garam sececah, buruk kerbau seekor. Mengalami kerugian besar karena mengalami perasaan takut untuk melakukan sesuatu.

972.Bagai menggaruk-garuk kepala. Orang yang berada dalam kesulitan.

973.Lain gatal, lain garuk. Lain yang diminta, lain yang diberi.

974.Kini gatal esok digaruk. Pertolongan yang datang terlambat.

975.Seperti garuk dengan sisir. Perilaku, tabiat, dan budi pekerti dua orang bersaudara yang berbeda.

976.Tidak orang menggaruk di luar badan. Dalam setiap perselisihan, setiap orang berusaha membela kepentingannya sendiri.

977.Hendak menggaruk tak berkuku. Tidak memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu.

978.Siapa gatal dialah yang menggaruk. Siapa yang berbuat dialah yang bertanggung jawab.

979.Diturutkan gatal tiba di tulang. Seseorang selalu memperturutkan kehendak akan menyesal atau mendapatkan kemalangan.

980.Habis gatal baru ingat hendak menggaruk. Perkara sudah selesai, tetapi cara mengatasinya baru teringat kemudian.

981.Tidak manusia nan tidak gawa. Manusia tidak akan luput dari kesalahan.

982.Sepandai-pandai tupai melompat sekali-kali gawal juga. Sepintar-pintar seseorang, sesekali berbuat kekeliruan juga.

983.Sedangkan tupai lagi gawal. Orang yang sangat ahli sekalipun dapat berbuat kesalahan.

984.Gawe bergedang air orang. Melakukan pekerjaan yang menguntungkan bagi orang lain.

985.Gaya sahaja rasanya wallah. Seseorang yang berparas bagus, tetapi berbudi pekerti buruk.

986.Biar kurang garang asal lebih gaya. Walaupun berpakaian jelek asalkan bersikap baik.

987.Putus gayung di belebas. Dalam memutuskan suatu perkara harus diteliti sebab musababnya terlebih dahulu kemudian dicarikan jalan pemecahannya.

988.Gayung bersambut, tepuk berbalas. Penghinaan dibalas dengan penghinaan.

989.Gayung bersambut kata berjawab. Menangkis serangan musuh.

990.Gayung tua gayung memutus. Kata-kata orangtua biasanya tepat.

991.Orang bergayung sama pandai bak kundi alas dulang. Perihal orang yang sama-sama arif bijaksana.

992.Bagai tergeletak serta kematian. Perihal keadaan yang sangat memprihatinkan.

993.Tak mudah menggelemai, kurang haru biar kambingan, terlampau haru berlantingan. Tak mudah melakukan suatu pekerjaan, bila kurang berhati-hati, tak akan berhasil.

994.Gelang tidak laga sebentuk laga keduanya. Suatu perselisihan, cinta kasha, dan sebagainya tidak berasal dari satu pihak saja, melainkan dua pihak.

995.Bagai menambah gelang bini. Memberikan sesuatu yang sudah dimiliki oleh orang yang diberi.

996.Setolok bagai gelang setempa bagai cincin. Perihal suami istri yang sangat sepadan.

997.Bergelanggang mata orang banyak. Perihal perkara yang sudah jelas.

998.Tak pernah masuk gelanggang bergong. Orang kecil dan rendah tak pernah bergabung dengan kelompok orang-orang yang besar dan mulia.

999.Bagai gelegar buluh. Orang yang besar cakap, tetapi tak berisi.

  1. Geleng seperti patung kenyang. Berjalan dengan sombongnya.
  2. Tinggi gelepur, rendah juga. Orang yang besar cakap, tetapi tak berisi.
  3. Tinggi laga rendah gelepur. Orang yang besar cakap, tetapi sangat penakut.
  4. Menggeli induk ayam. Memberanikan seorang penakut.
  5. Hilang geli karena gelitik. Kecanggungan akan segera hilang bila telah terbiasa.
  6. Habis geli oleh gelitik; habis bisa oleh biasa. Sesuatu yang kurang menyenangkan akan hilang dengan sendirinya bila telah terbiasa.
  7. Habis geli oleh gelitik habis rasa bisa binasa. Orang yang biasa hidup menderita takkan merasa sengsara karena sudah terbiasa.
  8. Salah gelogok hulu malang pandai bertenggang hulu baik. Dalam melakukan pekerjaan, jika kurang berhati-hati tidak akan berhasil.
  9. Bagai gelombang dua belas. Melakukan pekerjaan berat.
  10. Sama naik sama gelombang sama turun bak kapecong. Keadaan dua kejadian yang sama.
  11. Bagai geluk tinggal di air. Orang yang hidup sengsara menantikan bantuan dari siapa saja.
  12. Bagai tupai bergelut. Suatu langkah yang jitu.
  13. Gajah seekor gembala dua. Satu perkumpulan yang dipimpin oleh dua orang.
  14. Bagai gembala diberi keris. Memberikan sesuatu yang tidak dibutuhkan.
  15. Ternak gembala parak berpagar. Menjaga harta benda.
  16. Gemuk membuang lemak, cerdik membuang kawan. Orang kaya yang tidak mau bergaul dengan kaum kerabatnya.
  17. Kayu lekuk dalam semak; kerbau gemuk banyak lemak. Ejekan bagi orang yang bertubuh gemuk.
  18. Bermain bergenap ganjil. Bermain judi dengan mata dadu genap atau ganjil.
  19. Empat ganjil lima genap. Tutur kata orang yang bijaksana selalu mempunyai maksud tersembunyi.
  20. Masuk tak genap, keluar tak ganjil. Perihal seseorang yang tidak dipandang dalam masyarakat, tidak dapat melakukan apa-apa.
  21. Sudah genap bilangannya. Ajalnya sudah tiba.
  22. Dibilang genap dipapar ganjil. Tampaknya beruntung padahal merugi.
  23. Bagai gendang ke sirukam, perut kenyang emas boleh. Mendapatkan keuntungan yang berlebihan.
  24. Bagaimana bunyi gendang begitulah bunyinya. Perihal seseorang yang selalu menaati perintah.
  25. Bak gendang bak tari. Sifat dan perkataan seorang bawahan takkan jauh berbeda dengan sifat dan perkataan atasannya.
  26. Singkat untuk tabuh, panjang untuk genap. Perihal sesuatu yang serba tanggung.
  27. Situ juga gendang berbunyi. Tampak beruntung, sebenarnya merugi.
  28. Satu juga gendang bunyinya. Tidak berubah.
  29. Tahu diereng dengan gendeng. Bermain judi dengan mata dadu genap atau ganjil.
  30. Kalau hendak geneng di tepian, bawa labu kecil liang, rasakan penuh ditumpahkan. Memperlihatkan kesombongan diri kepada khalayak ramai.
  31. Hendak geneng di tengah lebuh, galah bersidingkat, hendak geneng di tengah medan, tampin taruh pada yang kuyu. Bila hendak dianggap mulia berusaha selalu menolong sesama.
  32. Genggam tiada tiris. Sangat menghemat.
  33. Genggam-genggam erat, buhul-buhul mati. Selalu memegang janji.
  34. Bagai menggenggam bara, terasa papas dilepaskan. Melakukan pekerjaan lain setelah mendapatkan kesukaran.
  35. Barang tergenggam jatuh terlepas. Segala sesuatu yang telah diperoleh telah hilang musnah.
  36. Jangan digenggam bagai bara, terasa hangat dilepaskan. Mengerjakan sesuatu harus jangan setengah-setengah.
  37. Menggenggam erat, menggenggam teguh. Keputusan yang tidak dapat diubah lagi.
  38. Menggenggam erat membuhul mati. Memegang janji dengan erat.
  39. Segenggam kegunungkan, setitik kulautkan. Sangat dihargai.
  40. Genta saja yang berbunyi, kuda sudah dek gerindin. Seseorang yang selalu berpakaian necis, tetapi penyakitan.
  41. Batik sudah gentas. Tidak dapat menghasilkan lagi.
  42. Genting menanti putus, biang menanti tembuk. Perkara yang hampir tuntas.
  43. Biar genting jangan putus. Biarpun tali sudah lama asalkan tidak putus.
  44. Menahan jerat di pergentingan. Mencari keuntungan dari kesusahan orang.
  45. Tahan jerat di tempat genting. Suatu perkara yang sangat besar.
  46. Tuna hati yang geram, hilang takut timbul keberanian. Orang yang dalam keadaan marah biasanya melupakan rasa takutnya.
  47. Berhemat sebelum habis. Membiasakan hidup hemat agar memiliki persediaan untuk masa mendatang.
  48. Memakan habis-habis, menyuruh hilang-hilang. Bila dipercaya merahasiakan sesuatu hendaknya berusaha selalu menyimpannya baik-baik.
  49. Habis manis sepah dibuang. Dibuang setelah tidak dipakai lagi.
  50. Habis air setelaga orang dibasuh tak putik. Walaupun diupayakan sedemikian rupa, tabiat jahat sukar berubah.
  51. Habis air habislah kayu jagung tua tak hendak dimasak. Melakukan pekerjaan sia-sia yang tidak mendatangkan untung.
  52. Habis sampan kerong-kerong tak dapat. Melakukan perbuatan yang sia-sia.
  53. Kambing haji masuk kebun haji. Kerugian yang disebabkan oleh anak atau kerabat sendiri.
  54. Kalau tiada mata sendiri, anak mata terdiri-diri. Jika tidak memiliki uang tidak dapat memiliki kekuasaan dan harapan.
  55. Hak yang lepas jangan dikenang. Tidak perlu menyesali sesuatu yang telah terjadi.
  56. Kata penghulu kata mufakat kata malim kata hakikat. Menghormati semua anggota rapat atau pertemuan yang berkata benar dan jujur.
  57. Syariat palu memalu hakikat balas membalas. Kebaikan harus dibalas dengan kebaikan pula.
  58. Bermain hakim sendiri. Langsung memberikan hukuman kepada orang yang bersalah.
  59. Berhakim kepada beruk, harta habis hasrat tak sampai. Berlindung pada orang yang tamak hanya akan mendatangkan kerugian.
  60. Tidak dihambat akar dihambat dahan. Melakukan pekerjaan yang tidak mengandung rintangan sama sekali sehingga berjalan lancar hingga selesai.
  61. Padi hampa tegak tangkainya. Orang yang sombong biasanya tidak berilmu.
  62. Yang hampa biar terbang yang bernas biar tinggal. Menyerahkan sepenuhnya kepada hukum alam, mana yang benar, mana yang salah.
  63. Terbeli di petai hampa. Tertipu.
  64. Hampa beras menjadi sekam. Memiliki banyak barang sehingga tidak mempedulikan barang yang hilang.
  65. Seperti tebu, air dimakan, hampasnya hilang. Gadis ditinggalkan kekasihnya setelah kehormatannya hilang.
  66. Umpama memerah nyiur, santan diambil, hampasnya dibuang. Bila mendengarkan nasihat orang, yang baik diterima sedangkan yang buruk dibuang.
  67. Hangat-hangat tahi ayam. Memiliki kemauan yang berubah-ubah.
  68. Hangus tiada berapi, karam tiada berair. Mengalami kemalangan yang bertubi-tubi.
  69. Datang tak berjemput, pulang tak berhantar. Seseorang yang tidak dipandang dalam masyarakat.
  70. Takut di hantu, terpeluk di bangkai. Mendapatkan musibah baru setelah menghindari sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditakutkan.
  71. Berhanyut dipintasi, lulus diselami, hilang dicari. Memberikan pertolongan kepada orang yang tertimpa kesusahan.
  72. Malu berkayuh, perahu hanyut. Bila tidak mau berusaha takkan mendapatkan hasil.
  73. Terapung sama hanyut, terendam sama basah. Seia sekata, sehidup semati.
  74. Terapung tak hanyut, terendam tak basah. Perkara yang tidak pernah berakhir.
  75. Diam-diam menghanyutkan. Tampak diam, tetapi membahayakan.
  76. Hapus arang di muka. Berusaha menghilangkan malu.
  77. Harapkan gunung di langit air di tempayan ditumpahkan. Mengharapkan keuntungan besar yang belum pasti, keuntungan kecil yang sudah ada di tangan dilepaskan.
  78. Harapkan anak, buta mata sebelah, harapkan teman, buta kedua-duanya. Tidak memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengawasi suatu pekerjaan.
  79. Ada rupa ada harga. Harga suatu barang tergantung pada mutunya.
  80. Kambing harga sebenggol. Karena tidak memiliki pengalaman, anak muda merasa kegirangan padahal akan mendapatkan bencana.
  81. Ia sepanjang hari, janji sepanjang malam. Mudah berjanji, sukar menepati.
  82. Ada hari ada nasi. Selama hidup selalu ada rezeki.
  83. Hari pagi dibuang-buang, hari buruk dikejar-kejar. Mengejar peluang baik yang pernah diabaikan sebelumnya.
  84. Hari guruh takkan hujan. Orang yang sangat marah takkan memukul.
  85. Hari ini sedang papas, kacang lupa akan kulitnya. Orang yang melupakan asalnya.
  86. Bagai harimau beranak muda. Orang yang berbadan sangat kurus, tetapi berperilaku sadis.
  87. Anak harimau diajar makan daging. Hendaknya bersungguh-sungguh dalam membimbing seorang anak agar bila besar tidak menimbulkan kesusahan.
  88. Kecil-kecil anak harimau. Keturunan bangsawan selalu disegani orang walaupun masih kecil.
  89. Kalau harimau menunjukkan belangnya kambing bertunggangan. Orang kecil yang hendak melawan orang yang berkuasa sudah tentu tidak akan berhasil.
  90. Seperti harimau menyembunyikan kuku. Orang kaya yang tidak suka memamerkan kekayaan sehingga tidak tampak seperti orang kaya.
  91. Seperti harimau menyembunyikan belangnya. Perkataan seseorang akan menunjukkan tabiatnya.
  92. Seperti harimau kena kucing pekak. Orang yang marah, tetapi takut karena bahaya akan datang.
  93. Tiada harimau yang memakan anaknya. Tidak ada orangtua yang hendak mencelakakan anaknya.
  94. Harimau meninggalkan belang gajah mati meninggalkan gading. Walaupun seseorang telah tiada, budi baik yang dilakukan semasa hidupnya akan selalu dikenang.
  95. Harimau mati karena belangnya. Seseorang yang mengalami kesusahan karena keangkuhannya sendiri.
  96. Harta pulang ke Tuan. Pakaian yang sangat cocok dikenakan oleh pemakaiannya.
  97. Harum menghilangkan bau. Keburukan tertutup oleh perbuatan baik.
  98. Bagai menghasta kain sarung. Melakukan pekerjaan yang sia-sia.
  99. Sejengkal jadi sehasta. Perkara kecil yang dibesar-besarkan.
  100. Ladang perahu di lautan, padang hati dipikiri. Menggunakan akal dalam memecahkan segala sesuatu.
  101. Makan hati berulam jantung. Sangat marah, gusar, sedih.
  102. Terlambat hati berpaut sayang. Sangat mencintai.
  103. Hati gajah sama dilapah, hati kuman dicecah. Banyak sedikit dibagi rata.
  104. Hati gatal mata digaruk. Mempunyai kemauan keras tetapi tidak kuasa menyatakannya.
  105. Orang harus diberi air, orang lapar diberi nasi. Mendapatkan sesuau yang diidam-idamkan.
  106. Hawa pantang kerendahan, nafsu pantang kekurangan. Tidak mau kalah dengan orang lain.
  107. Hawa nafsu tenaga kurang. Terlalu banyak keinginan, tetapi tidak mau bekerja.
  108. Sudah diheban dihela pula. Mendapatkan musibah beruntun.
  109. Bagai hela rambut dalam tepung. Berhati-hati dalam mengerjakan pekerjaan yang sulit.
  110. Tinggal sehelai pinggang. Perihal seseorang yang keadaannya sangat miskin.
  111. Menghilirkan air ke bukit. Melakukan pekerjaan yang sia-sia.
  112. Ke hulu kena bubu, ke hilir kena tengkulak. Tidak dapat menghindari bahaya yang mengintai.
  113. Sudah terlalu hilir malam, apa hendak dikata lagi. Sudah terlanjur.
  114. Hilir beraga mudik bersanggan. Tidak mendapatkan apa-apa.
  115. Hilir malam mudik tak singgah, daun nipah dikatakan daun abu. Jika mau berusaha tentu akan berhasil.
  116. Ingat sebelum kena, hemat sebelum habis. Terus berusaha agar tidak menyesal di kemudian hari.
  117. Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya. Orang yang rajin akan menjadi pandai dan orang yang selalu berhemat akan menjadi kaya.
  118. Hemat pangkal kaya, sia-sia hutang tumbuh. Bila ingin kaya hendaklah berhemat, bila bersikap boros hanya akan menambah hutang.
  119. Hempas tulang berisi perut. Bila rajin bekerja akan mendapatkan rezeki.
  120. Hempas tulang tak terbalas jasa. Bekerja keras, tetapi tidak menghasilkan apa-apa.
  121. Menghenggung bagai itik pulang petang. Berjalan sangat lamban karena bertubuh sangat gemuk.
  122. Potong hidung rusak muka. Orang yang bertingkah laku buruk terhadap keluarga sendiri akan mendapatkan malu juga.
  123. Rasa tak mengapa hidung dikeluani. Seseorang yang membiarkan dirinya dibodohi oleh orang lain.
  124. Seperti kerbau dicocok hidung. Bodoh dan selalu menurut.
  125. Hidung laksana kuntum seroja, dada seperti mawar merekah. Bentuk dada yang bagus.
  126. Hidung tak mancung pipi digigit. Memberikan kasih sayang semu.
  127. Bermain berhidup mati. Main judi dengan mata uang yang dilemparkan.
  128. Bagai kerekap di atas batu, mati segan hidup tak mau. Hidup melarat dan sakit-sakitan.
  129. Jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup banyak dirasa. Memiliki banyak pengalaman.
  130. Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai. Lebih baik mati daripada hidup menanggung malu.
  131. Kalau bangkai galikan kuburnya, kalau hidup sediakan buaiannya. Memperhatikan dengan saksama sesuatu yang terjadi, kemudian mengambil langkah pemecahannya.
  132. Hidup kayu berbuah, hidup manusia biar berjasa. Selagi hidup berusaha melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi diri dan masyarakat.
  133. Hidup sandar bersandar, umpama air dengan tebing. Hidup tolong-menolong.
  134. Hidup tak karena doa, mati tak karena sumpah. Berusaha dengan kemampuan sendiri, jangan bergantung kepada orang lain.
  135. Hidup di dua muara. Mendapatkan penghasilan di dua tempat.
  136. Hidup dikandung adat, mati dikandung tanah. Ketika masih hidup mengikuti aturan dan kebiasaan yang berlaku, setelah mati berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
  137. Patah tumbuh hilang berganti. Terus-menerus ada gantinya.
  138. Esa hilang tak terbilang. Berusaha terus-menerus untuk mencapai tujuan.
  139. Hilang pelanduk berganti berganti kijang emas. Seorang istri yang miskin diceraikan kemudian mendapatkan suami yang kaya raya.
  140. Hilang ikon dalam kerbau. Kejahatan yang hilang sifat jahatnya karena ada orang yang mengikuti perbuatan jahat itu.
  141. Hilang jasa beliung timbul jasa rimbas. Orang yang berjasa tidak mendapatkan pujian, orang yang sama sekali tidak berjasa mendapatkan pujian.
  142. Hilang adat tegal mufakat. Adat dapat diubah berdasarkan persetujuan.
  143. Hilang kilat dalam kilau. Kepandaian seseorang tidak akan tampak bila bergaul dengan orang yang pandai juga.
  144. Hilang kabus teduh hujan. Setelah mengalami kesusahan mendapatkan kesenangan.
  145. Hilang rona karena penyakit, hilang bangsa tidak beruang. Orang miskin jarang sekali dihormati orang.
  146. Hilang oleh kura-kura ditelan oleh dadanya. Orang yang hina, tetapi memiliki kepandaian akan dihormati orang lain.
  147. Hinggap mencengkeram dahan, terbang menumpu dahan. Bila hendak merantau hendaknya mencari kaum sesuku dan bila hendak kembali ke kampung halaman meminta izin kepadanya.
  148. Hinggap mencengkeram terbang menumpu. Bila hendak merantau hendaknya mencari kaum sesuku dan bila hendak kembali ke kampung halaman hendaknya sepengetahuan mereka.
  149. Hinggap saja bagai langau, titik saja bagai hujan. Musibah yang terjadi dengan tiba-tiba.
  150. Hendak hinggap tiada berkaki. Hendak mengerjakan sesuatu, tetapi tidak ada sarana yang memadai.
  151. Hitam, hitam, gagak, putih, putih udang kapai, hitam, hitam bendi, putih sadah. Meskipun berdandan dengan cantiknya, orang yang hina tetap akan hina.
  152. Hitam mata tiada bercerai dengan mata. Pasangan suami istri yang hidup rukun takkan mau berpisah.
  153. Hitam tahan tempa, putih tahan sesah. Orang yang tahan cobaan.
  154. Hitam-hitam bendi, putih-putih sadah. Orang yang mulia tetap mulia walaupun berwajah buruk, orang hina tetap hina walaupun berwajah elok.
  155. Hitam-hitam kereta api, putih-putih kapur sirih. Orang yang berburuk rupa belum tentu tidak berharga, sebaliknya orang yang berwajah baik tidak selamanya baik.
  156. Bagai menghitung bulu kambing. Melakukan pekerjaan yang sangat sukar.
  157. Hitung nasib peruntugan. Membahas tentang nasib.
  158. Panas setahun terhapus oleh hujan sehari. Kebaikan yang telah diperbuat menjadi hilang karena kesalahan kecil yang diperbuat.
  159. Ke mana tumpah hujan dari bubungan, kalau tidak kecucuran atap. Setiap anak akan mencontoh perbuatan orangtuanya.
  160. Setelah hujan akan panas juga. Setelah mengalami berbagai kesulitan akan mendapakan kesenangan.
  161. Sedikit hujan banyak yang basah. Musibah kecil membawa akibat besar.
  162. Tidak hujan lagi becek ini kan pula hujan. Tidak melakukan sesuatu saja sudah diperbincangkan orang apalagi bila benar-benar melakukan.
  163. Tak lapuk karena hujan tak lekang karena panas. Suatu keadaan yang tidak pernah berubah.
  164. Hujan emas di negeri orang hujan batu di negeri sendiri, masih lebih baik di negeri sendiri. Sebaik-baiknya negeri orang, masih baik negeri sendiri.
  165. Hujan menimpa bumi. Setiap orang tidak dapat menolak perintah dari orang yang memiliki kekuasaan.
  166. Hujan tak sekali jatuh, simpai tak sekali erat. Suatu pekerjaan tidak dapat diselesaikan sekaligus dan keberuntungan tidak datang sekaligus.
  167. Hujan takkan berbalik ke langit. Segala sesuatu yang sudah pasti takkan bisa berubah.
  168. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.
  169. Ke hulu kena bubu, ke hilir kena tingkalak. Orang yang tidak bisa menghindari diri dari bahaya yang selalu mengintainya.
  170. Orang berpegang pada hulu, awak berpegang pada mata. Mendapatkan lawan yang lebih tangguh dalam suatu perkara.
  171. Di hulu keruh airnya, di hilir keruh juga. Perkara yang pada awalnya sudah rumit, maka selanjutnya akan rumit pula.
  172. Hulu mujur pandai bertenggang, hulu baik pandai memakai. Seseorang yang pandai membawa diri dalam pergaulan.
  173. Habis hulubalang bersiak. Menjual sesuatu yang ada jika memerlukan uang.
  174. Dikatakan berhuma lebar, sesapan di halaman. Memamerkan kemewahan yang tidak ada buktinya.
  175. Apa gunanya bulan terang dalam hutan, jikalau dalam negeri betapa baiknya. Suatu ilmu pengetahuan akan lebih bermanfaat jika diberikan pada suatu pertemuan sehingga banyak orang yang akan mendapatkan ilmu tersebut.
  176. Apa gunanya merak mengigal di hutan. Tidak ada gunanya memperlihatkan kepandaian kepada orang bodoh.
  177. Hutan jauh diulangi, hutan dekat dikendana. Menjaga baik-baik harta yang dimiliki.
  178. Hutan laranga, hutan tutupan. Hutan yang pohonnya tidak boleh ditebang.
  179. Hutan biduk belum langsai, hutan pengayuh tiba pula. Hutang yang belum lama terbayar, sudah ada hutang yang baru (gali lubang tutup lubang).
  180. Hutang sebelit pinggang. Dililit hutang.
  181. Hutang tembilang belum langsai, hutang tajak tiba pula. Hutang yang belum lama terbayar, sudah ada hutang yang baru (gali lubang tutup lubang).
  182. Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalan. Kasih sayang seorang ibu tidak memiliki batas, sedangkan kasih sayang anak selalu terbatas.
  183. Seidas bagai benang, sebentuk bagai cincin. Dua orang yang sangat sepadan.
  184. Seperti merak mengingal di dalam hutan. Tidak ada gunanya memamerkan kepandaian kepada orang bodoh.
  185. Pukat sudah terijuk. Perihal seseorang yang akan mendapatkan keuntungan.
  186. Bagai mencari kutu dalam ijuk. Melakukan hal yang teramat sulit.
  187. Ijuk sebelembang tali di situ keluar dari situ. Memiliki penghasilan yang sangat kurang untuk menghidupi banyak anggota keluarga.
  188. Ijuk tak bersagar, lurah tak berbatu. Tidak mempunyai saudara yang disegani orang.
  189. Ijuk tak bersagar. Tidak mempunyai kerabat yang disegani orang lain.
  190. Ranap pertulang, ijuk penebal. Mencari penghasilan tambahan.
  191. Sudah terijuk awak. Perihal seseorang yang merasa kecewa karena kekurangan dalam dirinya telah diketahui orang lain.
  192. Tampak benar lurah tak berbatu, ijuk tak bersagar. Melakukan perbuatan semena-mena karena yakin tidak ada yang akan menentangnya.
  193. Ikan biar dapat serampang jangan pukah. Melakukan suatu pekerjaan yang bermanfaat sehingga mendapatkan hasil.
  194. Ikan belum dapat airnya sudah keruh. Belum berbuat sesuatu sudah menemui kekisruhan.
  195. Ikan lagi di laut, lada garam sudah di sengkalan. Melakukan persiapan untuk pekerjaan yang belum pasti.
  196. Ikan seekor rusakkan ikan setabat. Akibat kesalahan seseorang, orang lain yang menanggung akibatnya.
  197. Ikan sekambu rusak oleh ikan seekor. Karena kesalahan seseorang, orang banyak menanggung akibatnya.
  198. Ikan sedikit rusakkan ikan setajau. Karena kesalahan seseorang, orang banyak menanggung akibatnya.
  199. Memancing ikan dalam belanga. Melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dilakukan.
  200. Kelebihan ikan pada radai, kuat burung karena sayap, kelebihan manusia karena akal. Setiap manusia selalu mempunyai kelebihan masing-masing yang tidak dimiliki orang lain.
  201. Kelebihan ikan pada radai, kuat burung karena sayap, kuat ketam karena supit. Setiap orang memiliki kelebihan yang dapat menjadi kekuatan dalam dirinya.
  202. Walau ikan yang diam ke dalam tujuh lautan sekalipun termasuk dalam pukat juga. Sepandai-pandainya seseorang, niscaya pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya.
  203. Ikat boleh diubah, takuk bagaimana mengubahnya. Kebiasaan seseorang dapat diubah dengan mudah, sedangkan tabiatnya sukar diubah.
  204. Seikat bagai sirih, serumpun bagai serai. Selalu bersatu dalam segala hal.
  205. Ikhtiar menjalani untung menyudahi. Setiap orang harus berusaha, namun berhasil atau tidaknya bergantung pada nasibnya.
  206. Sehabis ikhtiar baru tawakal. Jika sudah berusaha semaksimal mungkin, namun tidak juga mendapatkan hasil, hendaknya berserah diri kepada Allah.
  207. Ikut hati mati, ikut rasa binasa, ikut mata leta. Jangan terlalu menurutkan hawa nafsu agar tidak merasa susah.
  208. Bagai ilak bercerai dengan benang. Perseraian untuk selama-lamanya; tidak akan rujuk kembali.
  209. Ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon kayu yang tiada berbuah. Ilmu yang tidak bermanfaat.
  210. Tidak ilmu suluh paham. Ilmu dapat menerangi kehidupan seseorang.
  211. Imam yang adil lebih baik daripada hujan yang lebat. Martabat seorang pemimpin yang berperangai buruk lebih rendah dari martabat orang yang dipimpinnya.
  212. Terimbau pada orang yang akan datang, tersuruh pada orang yang akan pergi. Menyuruh orang lain untuk melakukan pekerjaan yang disukainya.
  213. Bagai inai dengan kuku. Perihal dua orang yang tak pernah berselisih, selalu rukun.
  214. Kaki tertarung inai pada dahannya, mulut terdorong emas padanannya. Berani menanggung risiko atas janji yang telah diucapkannya.
  215. Indah kabar dari rupa. Kabar biasanya melebihi kenyataannya.
  216. Di indang ditampi beras, dipilih antan satu satu. Dalam mencari pasangan hidup harus meneliti segala sesuatu yang bersangkutan dengannya.
  217. Telah jadi indarus. Kalah main dalam berjudi.
  218. Ingat ranting yang akan melenting, dahan yang akan mencucuk, duri yang akan mengait. Bertindak hati-hati dalam melakukan pekerjaan untuk menghindari segala aral melintang.
  219. Ingat-ingat yang di atas, yang di bawah menimpa. Seorang pimpinan harus berhati-hati dalam menjalankan kepemimpinannya agar tidak mendapatkan kesulitan dari anak buahnya.
  220. Tidak ingat badan celaka, terlalu ingat badan binasa. Bila tidak berhati-hati adakalanya menyebabkan kesusahan, namun bila terlalu hati-hati akan binasa sama sekali.
  221. Ingin dibuah manggis hutan, masak ranum terlalu tinggi. Mengharapkan sesuatu yang tak mungkin dicapai.
  222. Ingin hati memandang pulau, sampan ada pengayuh tiada. Bermaksud mengerjakan sesuatu, tetapi tidak ada alatnya.
  223. Di mana bumi diinjak di sana langit dijunjung. Berusaha menghormati adat-istiadat negeri yang kita diami.
  224. Intan berlian jangan dipijakkan. Untung dan malang tidak dapat ditolak.
  225. Jual emas beli intan. Meninggalkan orang yang berperilaku buruk, mendapatkan orang yang berperilaku sangat baik.
  226. Menohok kawan seiring dalam lipatan. Mencelakakan teman sendiri.
  227. Seiring bertukar jalan, seia bertukar tersebut. Berbeda pendapat, tetapi maksudnya sama.
  228. Diiringkan menyepak dikemudiankan menanduk. Selalu menyusahkan.
  229. Diperbesar isap hitam di bibir. Orang yang pendiriannya tidak tetap.
  230. Bagai kuku dengan isi. Sangat sepadan.
  231. Isi lemak dapat ke orang, tulang bulu pulang kita. Mendapat kesusahan, sementara orang lain dapat senangnya.
  232. Bagai itik pulang petang. Sangat lamban dalam mengerjakan sesuatu.
  233. Itik berenang dalam air di laut mati kehausan. Seseorang yang meskipun memiliki pangkat tinggi dan berharta banyak, namun selalu mendapatkan kesusahan.
  234. Itik tak sudu ayam tak patuk. Perihal sesuatu yang tidak berharga lagi.
  235. Mengajar itik berenang. Melakukan pekerjaan sia-sia.
  236. Menghinggung bagai itik pulang petang. Perihal seseorang yang mengerjakan sesuatu dengan sangat lamban.
  237. Seperti itik mendengar guntur. Mengharapkan keuntungan yang belum tentu.
  238. Seperti ayam beranak itik. Orangtua kolot yang memiliki anak modern takkan dapat memahami segala tingkah laku anaknya.
  239. Tak ada itik yang bertengger. Perihal sesuatu yang sangat mustahil.
  240. Jadi dinding tasak peti mainan. Seseorang yang menjadi tumpuan harapan seorang raja.
  241. Lubuk jadi pantai, pantai jadi lubuk. Senang dan susah silih berganti dalam kehidupan manusia.
  242. Pipit menelan jagung. Orang hina dan rendah yang mendapatkan kesusahan akibat meniru-niru perilaku orang besar.
  243. Baik berjagung-jagung sementara belum masak. Menggunakan barang yang sudah ada sebelum ada barang yang baik.
  244. Habis air habislah kayu, jagung tua hendak masak. Pekerjaan yang hanya mendatangkan rugi.
  245. Lalu penjahit lalu kelindan. Tidak berhasil dengan cara satu, menggunakan cara lain.
  246. Mencari penjahit dalam rumput. Mengerjakan pekerjaan yang teramat sulit.
  247. Sejahat-jahatnya harimau takkan memakan anaknya sendiri. Tidak ada orangtua yang bermaksud mencelakakan anaknya.
  248. Hilang penjahit berkerbau-kerbau. Mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk menyelesaikan perkara daripada harga barang yang diperselisihkan.
  249. Seperti penjajap berpaling hendak hilir. Perihal seorang wanita yang keluar dari rumahnya dengan penuh keanggunan.
  250. Ikan terkilat jala tiba. Perihal seseorang yang dapat menangkap pembicaraan seseorang dengan cepat.
  251. Siapa menjala siapa terjun. Bila menginginkan sesuatu harus berusaha sekuat tenaga.
  252. Sambang penuh jala terletak laut kering ikan terhempas. Melakukan suatu pekerjaan yang hasilnya sangat memuaskan.
  253. Berjalan peliharakan kaki, berkata peliharakan lidah. Bersikap hati-hati dalam segala tindak tanduk.
  254. Berjalan selangkah menghadap surut, berkata sepatah dipikiri. Segala sesuatu dipikirkan dengan matang.
  255. Jalan diasak orang lalu, cupak dipepat orang menggalas. Perihal pendatang yang mengubah adat-istiadat negeri yang didatanginya.
  256. Jalan di tepi-tepi benang arang orang jangan dipijak. Mengutamakan kesantunan bila merantau ke negeri orang.
  257. Lama hidup banyak dirasai, jauh berjalan banyak dilihat. Semakin lama hidup seseorang, semakin banyak pengalaman yang diperolehnya.
  258. Seiring bertukar jalan. Perihal dua orang yang berbeda pandangan.
  259. Sekali jalan terkena, dua kali jalan tahu, tiga kali jalan jera. Betapapun bodohnya seseorang jika pernah terpedaya tidak akan terperdaya untuk kedua kalinya.
  260. Sesat di ujung jalan, surut ke pangkal jalan. Bila terjadi kesalahan dalam perundingan hendaknya diadakan perundingan kembali.
  261. Sesat di ujung jalan, balik ke pangkal jalan. Bila berbuat kesalahan di saat-saat akhir, hendaknya kembali ke tahap awal pada saat sebelum melakukan kesalahan.
  262. Menghadapi jambar seorang-seorang. Setiap orang berkonsentrasi dalam pekerjaan, taka da yang menghiraukan pekerjaan orang lain.
  263. Tidak dibawa orang makan sejambar. Orang yang dikucilkan karena keadaan atau perbuatannya.
  264. Bagai jampuk kesiangan hari. Orang yang merasa kebingungan karena kehilangan akal.
  265. Berinduk semang kepada janda bagai berdokoh ke tali anjing. Suami yang berhubungan dengan bekas istrinya dianggap tercela, sekalipun hanyalah hubungan bisnis.
  266. Laksana janda baru bangun tidur. Perihal wanita yang sangat memikat hati laki-laki.
  267. Sudah tujuh duduk berjanda, sembilan beranak tiri, tercecah di uban di gigi. Sindiran kepada orangtua yang menikah lagi.
  268. Jangan liat kurang panggang. Perihal orang keras kepala yang sukar diberi nasihat.
  269. Tinggal jangat pembalut tulang. Sangat kurus.
  270. Sungguh berjanggut tiada berjubah. Perihal sesuatu yang tidak sempurna.
  271. Jangkau sehabis tangan. Berusaha sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan.
  272. Bertangga naik berjanjang turun. Mengerjakan sesuatu harus berdasarkan aturannya.
  273. Naik di janjang, turun di tangga. Mengerjakan sesuatu harus berdasarkan aturannya.
  274. Janji sampai bilangan genap. Sudah menjelang ajal.
  275. Janji sampai sukatan penuh. Menjelang ajalnya.
  276. Janji ditepati ikrar dimuliakan. Janji harus ditepati karena merupakan utang.
  277. Adat diisi janji labuh. Berusaha memenuhi janji.
  278. Makan hati berulam jantung. Sangat menyedihkan.
  279. Hati bagai pelepah, jantung bagai jantung pisang. Perihal seseorang yang tidak dapat memahami perasaan orang lain.
  280. Duduk meraut ranjau, berdiri mengintai jarah. Melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya.
  281. Jarak serasa hilang bercerai serasa mati. Perihal orang bersaudara, bila dekat berbantahan dan bila jauh saling merindukan.
  282. Jaras dikatakan raga jarang. Seseorang yang mencela orang lain padahal dirinya sama dengan orang yang dicela tersebut.
  283. Jari seperti duri landak. Perihal wanita yang sangat cantik.
  284. Bagai memasuki jarring laba-laba. Melakukan suatu pekerjaan yang tidak mendatangkan manfaat.
  285. Jaring berbangkit kuaran tiba. Salah perhitungan dalam mencari keuntungan.
  286. Bagai tungtung jarum di laga. Perihal seseorang yang tidak berpendirian.
  287. Jarum halus kelindan sutera. Menggunakan tipu daya yang sangat halus.
  288. Lurus jarum lurus kelindan. Bila permintaan yang besar saja dapat dikabulkan apalagi permintaan kecil.
  289. Masuk bagai liang jarum, keluar bagai liang tabuh. Besar belanja dari pendapatan.
  290. Penjatian bulan pagi rebah. Sesuatu yang sangat diidam-idamkan.
  291. Biar jatuh terlentang jangan jatuh terempas. Karena dituduh bersalah, lebih baik berhenti dari pekerjaan daripada dipecat.
  292. Buah jatuh takkan jauh dari pohonnya. Seorang anak akan meniru perilaku orangtuanya.
  293. Busuk berbau jatuh berdebuk. Perbuatan jahat bagaimanapun disembunyikan tetap akan dapat diketahui.
  294. Sudah jatuh tertimpa tangga. Mendapatkan kemalangan yang bertubi-tubi.
  295. Terjatuh diimpit jenjang. Mendapatkan kemalangan yang bertubi-tubi.
  296. Yang jauh telah dijemput, yang hampir telah tiba. Telah ada panggilan.
  297. Jauh panggang dari api. Tidak tepat, belum mengenai sasaran.
  298. Jauh boleh ditujukan, dekat boleh dipegang. Kebenaran yang telah terbukti.
  299. Jauh menyalak kuat, dekat mencawat ekor. Hanya berani dari kejauhan, berani di belakang saja.
  300. Jauh mencari suku, dekat mencari induk. Jika merantau hendaknya mencari saudara sesuku.
  301. Telah jauh maka dipanggil. Sudah lewat masalahnya baru ditemukan cara pemecahannya.
  302. Jauhari pula yang mengenai manikam. Hanya orang bijaklah yang banyak mengetahui suatu ilmu.
  303. Manis bagai gula jawa. Sangat sepadan.
  304. Bagai jawi belang puntung, didahulukan menyepak, dikemudiankan menanduk. Orang yang selalu membuat kekacauan.
  305. Jawi hitam banyak tingkah. Sangat cerewet.
  306. Menghilangkan jejak bagai harimau. Penjahat yang pandai menyembunyikan kejahatannya.
  307. Mencari jejak di dalam air. Melakukan pekerjaan sia-sia.
  308. Jelatang di hulu air. Suatu perkara yang sangat menyusahkan.
  309. Dijemba-jemba bagai bersiang, dihela surut bagai bertanam. Segala sesuatu diatur terlebih dahulu agar mendapatkan hasil yang baik.
  310. Jemur sementara hari panas. Berusaha sekuat tenaga selagi ada waktu dan kesempatan.
  311. Jemur terkekam ayam tiba. Perihal pedagang yang baru membuka dagangannya telah dikerubuti oleh pembeli.
  312. Meski ke langit akan berjemur, kalau hari tak panas takkan kering. Jika nasib belum mujur, keuntungan takkan dapat diraih.
  313. Mana ada ayam yang memantangkan jemur. Tidak ada seorang pun yang akan menolak keberuntungan.
  314. Biar sejengkal dalam lautan jangan dicapak. Jangan menganggap enteng musuh sekalipun mereka kecil.
  315. Kalau kail sejengkal jangan laut hendak diduga. Bila memiliki sedikit pengetahuan, jangan bersaing dengan orang yang berpengetahuan luas.
  316. Sejengkal takkan jadi sehasta, secupak takkan jadi sesukat. Bila umur manusia telah ditentukan Tuhan, tak satupun yang dapat mengubahnya.
  317. Sejengkal takkan jadi sehasta. Sesuatu yang telah tetap tidak dapat berubah lagi.
  318. Cakapan sejengkal dibawa sehasta. Membesarkan perkara sepele.
  319. Berjenjang naik bertangga turun. Mengerjakan suatu pekerjaan harus berdasarkan aturannya.
  320. Seperti jentayu menantikan hujan. Perihal seseorang yang sangat merindukan kekasihnya.
  321. Bagai menjenguk jerat sial. Melaksanakan suatu pekerjaan yang tidak disukai.
  322. Jerat serupa dengan jerami. Bila tidak berhati-hati akan mendapatkan kesusahan.
  323. Jerat takkan lupa akan balam, tapi balam lupa akan jerat. Seseorang yang telah melupakan bahaya yang masih mengintainya.
  324. Menahan jerat di tempat genting. Mencari keuntungan dari orang yang ditimpa kesusahan.
  325. Jerih menentang boleh, rugi menantang bala. Memberikan pertolongan untuk mendapatkan pertolongan.
  326. Terjerit-jerit bagai kucing biang. Seorang wanita yang tidak mempunyai rasa malu sekalipun suaranya terdengar ke mana-mana.
  327. Tongkat patah berjermang. Dalam keadaan bagaimanapun sulitnya, jangan berputus asa dan tetap melakukan suatu pekerjaan.
  328. Sudah diludah dijilat kembali. Sudah dibuang, dipungut kembali.
  329. Air jernih ikannya jinak. Negeri aman makmur berpenduduk halus budi bahasanya.
  330. Kalau bertangkai boleh dijinjingkan. Jika kuncinya ditemukan, kebenaran akan mudah didapatkan.
  331. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Persahabatan yang sangat erat; seia sekata.
  332. Membuang bunga ke jirat. Membuang tenaga dengan sia-sia.
  333. Jiwa bergantung di ujung rambut. Dalam keadaan genting; nyawa yang sedang terancam.
  334. Yang dijolok tiada jatuh penjolok tinggal di atas. Alat yang digunakan menjadi rusak, sedangkan usaha yang dilakukan tidak berhasil.
  335. Bunyi seperti kumbang dijolok. Keras dan membosankan.
  336. Sarang tabuhan jangan dijolok. Jangan mencari bahaya.
  337. Bak bujang jolong berkeris. Perihal laki-laki yang teramat sombong.
  338. Menjual tangkai pungkur dedap. Hanya omong kosong saja.
  339. Menjual tangkai cangkul secah. Seorang yang berdusta.
  340. Dijual dahulu maka dibeli. Memikirkan dengan matang sebelum melakukan pekerjaan.
  341. Dari juang turun ke sampan. Perihal seseorang yang turun derajat atau pangkat.
  342. Seperti juar berteras ke dalam. Lebih baik diam tetapi berpengetahuan banyak daripada hanya menyombongkan diri.
  343. Bersambut dengan juara, selilit benang bulang tahu juga. Orang yang selaul bergaul dengan orang jahat akan menjadi jahat pula.
  344. Bagai orang berjudi, kalah hendak balas, menang hendak lagi. Tidak dapat berhenti.
  345. Menegakkan juek-juek sesudah menyabit. Setelah selesai melakukan pekerjaan, baru terlintas cara pengerjaannya.
  346. Sepuluh jung masak, anjing bercawat seekor saja. Perihal orang yang tidak pernah mengindahkan perubahan dan kemajuan.
  347. Junjung sengkak ayam. Perihal perasaan seseorang yang mendapatkan celaka.
  348. Kerja raja dijunjung, kerja kita dikelek. Lebih mementingkan pekerjaan orang lain daripada pekerjaan sendiri.
  349. Selisih berujung kerja berjunjung. Setiap pekerjaan besar selalu ada yang bertanggung jawab.
  350. Dijunjung merekah kepala, dipukul meruntuh palu. Peraturan yang sangat berat sehingga sukar dilaksanakan.

 

 

About these ads
By abdurrahman Posted in Umum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s