Akhir yang Baik

Suatu ketika seorang muslim yang miskin papa mendatangi Rasulullah dan meminta sang Nabi mendoakannya agar menjadi kaya. Rasulullah mula-mula menolaknya, dengan memberi peringatan halus; bahwa kekayaan bukan jaminan kebahagiaan. Bahkan cobaan hidup kaya bisa jadi lebih berat untuk ditanggung seorang manusia. Namun lelaki ini bersikeras hingga Rasul pun mengabulkan keinginannya dan mendoakan agar ia kaya.

Doa Rasul terkabul. Sang lelaki menjadi kaya dan semakin bertambah kaya. Namun, seiring meluas kekayaannya, apa yang diperingatkan dan dikhawatirkan Rasul pun terjadi. Ia lalai, semakin hari semakin bertambah lalai akibat kekayaannya.

Mula-mula ia ‘hanya’ sering terlambat salat berjamaah. Lalu, ia jadi sering alpa salat berjamaah. Hingga lama-lama ia benar-benar enggan berjamaah, dengan alasan kesibukan mengurusi harta.

Lelaki ini pun enggan mengeluarkan hartanya untuk berzakat, apalagi bersedekah. Maka, perjalanan akhir hidupnya lantas saja menjadi satu untaian kisah berklimaks tragis yang tercatat dalam sejarah. Ia wafat sebagai seorang munafik dan kisahnya terabadikan dalam Alquran.

Lain lagi jalan hidup Umar bin Khattab. Masa lalunya amat gelap. Tak sekadar membenci umat Islam, ia bahkan tega mengubur anak perempuannya hidup-hidup, dengan tangannya sendiri. Semua itu dilakukannya hanya karena kebiasaan dan tradisi turun temurun. Namun, hidayah Allah membalik semuanya. Umarpun pembela sejati. Ia berani menegakkan kebenaran dan tak gentar hanya oleh sebab kematian. Pantaslah ia dijuluki Al Faruq dan Rasul pun menggambarkan dirinya dengan indah: Kalaulah Umar berjalan di satu jalan dan setan ada di jalan yang sama, maka tentulah si setan akan memilih jalan yang lain.

Hidayah Allah menyinari Umar setelah ia berumur. Namun, dengan kesungguhan dan istikamahnya, kesalahannya “diputihkan”. Sejarah pun mencatat namanya dalam lembaran bertinta emas sebagai salah satu sahabat yang dijamin masuk surga.

Kedua contoh ini, sesungguhnya menuntun setiap mukmin untuk menyadari bahwa tak soal siapa, apa dan bagaimana masa lalu, yang terpenting adalah bagaimana kita membentuk hari ini untuk mencapai hari esok yang lebih baik dan menuntaskan hidup ini dalam kondisi yang paling baik.

Jalan yang bisa ditempuh tentu tak hanya sekadar menggantungkan diri pada takdir, atau berlindung pada kalimat: Hidayah adalah milik Allah, terserahlah, pada siapa Dia akan memberi curahan-Nya. Sebab, soal peran aktif untuk memilih mengubah nasib sebagai sosok mukmin, kafir, atau munafik, tetaplah berada di tangan manusia.

Benar, hidayah adalah milik Allah semata. Namun, yang diberinya pada manusia yang telah dianugerahkannya kemampuan memilih, jalan fujur atau jalan takwa. Dan telah kami ilhamkan kepada manusia dua jalan, yaitu furojaha (jalan keburukan) dan tawaqaha (jalan kebaikan). (QS. 91: 8-10)

Maka, Allah tegaskan betapa beruntungnya mereka yang memilih jalan kebaikan dan menyucikan dirinya. Sebaliknya betapa meruginya mereka yang memilih jalan keburukan dan mengotori dirinya.

Setiap detiknya, setiap diri sesungguhnya tengah memahat sebuah prasasti berwujud “autobiografi”, suatu catatan yang akan terus dikaji, dibaca, dan dikenang oleh anak, cucu dan para penerus tugas kehidupan. Pertanyaannya: Seperti apa kita ingin dikenang bila tak lagi berada di dunia ini?

Beberapa hari ke depan, satu tahun masehi, akan berlalu lagi. Meninggalkan setumpuk kenangan dalam masa 365 putaran hari yang tak akan pernah tergantikan dan terlupakan.

Seperti apa Anda ingin dikenang? Kalaulah hari-hari dan kesempatan masih panjang, inilah saatnya kita memilih untuk mencatatkan kebaikan demi kebaikan dan demi sebuah catatan akhir kehidupan yang indah dan mengesankan. Maka ya Allah, tuntunlah kami untuk selalu istikamah di jalan-Mu. Aamiin. (Zirlyfera Jamil)

 

Menyiasati Keprihatinan

Di mana bisa kaucari tempat seperti Indonesia?

Bentangan negerinya sangatlah luas. Alamnya subur dan punya aneka ragam sumberdaya melimpah. Matahari dan hujan turun berimbang. Lautnya luas, hutannya banyak. Ribuan jenis tumbuhan dan hewan hidup dan berkembang biak. Gunungnya berbaris dan tambangnya berlapis. Cuacanya pun amat bersahabat. Tak sangat panas, tak sangat dingin. Tak heran ada satu lagu bersyair: tongkat kayu pun kalau ditanam bisa jadi tanaman.

Seorang syekh pernah berkunjung ke Indonesia dan diajak keluar kota melewati kawasan puncak. Sepanjang perjalanan dia menatapi pemandangan dan berkata pada panitia pengantarnya: “Akhi, negerimu sungguh laksana surga…”

Syekh ini tentu bukan sedang berolok-olok, tapi surga memang digambarkan lengkap dengan kebun-kebun, buah-buahan dan sungai yang mengalir indah. Maka pantaslah bila Indonesia dengan segala kekayaan dan keragaman alamnya disebut sebagai “surga dunia”.

Namun, bicara soal kesejahteraan, gambaran Indonesia jauh dari indah. Sebagai negara berkembang –kata halus dari negara terbelakang– rakyatnya kebanyakan sungguh-sungguh miskin. Banyak keluarga terpaksa tinggal di kolong-kolong jembatan atau pada gerobak-gerobak dorong. Tak mampu menyekolahkan anak-anak, dan tak mampu berobat di kala sakit. Sebagian di antaranya bahkan harus meninggal karena penyakit busung lapar atau kurang gizi.

Meski begitu, mobil mewah laris manis setiap kali dipasarkan. Pusat-pusat perbelanjaan penuh sesak oleh pengunjung yang sibuk berbelanja. Petinggi-petinggi negerinya pun kerap jalan-jalan keluar negeri. Hingga, diraihlah “penghargaan” dunia: negeri ini menjadi jawara korupsi!

Maka, di mana lagi bisa kaucari tempat seperti Indonesia?

 

Tanggung jawab Negara

Kenaikan harga BBM terakhir awal Oktober lalu, semakin mengempaskan masyarakat Indonesia pada jurang keterpurukan. Budi Rajab, pengamat sosial asal Universitas Padjajaran Bandung, menjelaskan kondisi keterpurukan ini disebabkan bertambahnya angka pengangguran dan angka penduduk miskin.

Ada sekitar 40 juta penduduk masuk kategori miskin di Indonesia saat ini. Sementara angka pengangguran, baik mereka yang sama sekali tak memiliki pekerjaan, maupun mereka yang setengah menganggur, hampir mencapai angka 11 juta jiwa. Ini berarti semakin meningkat pula persentase kemungkinan terjadinya problem-problem sosial yang sulit diatasi, seperti bertambahnya jumlah anak jalanan, preman, pekerja seks hingga pelaku tindak kejahatan.

Lebih lanjut Budi menjelaskan, kemiskinan di Indonesia tak hanya berwujud munculnya orang-orang dengan pendapatan rendah tetapi juga karena melebarnya jurang ketimpangan pendapatan satu kelompok masyarakat dengan kelompok lain. “Distribusi pendapatan di negeri kita tidak merata. Bukan hanya antara manusianya, tetapi juga antar daerahnya,” prihatin Antropolog kelahiran 44 tahun lalu ini.

Mencoba menggali lebih dalam, ia lantas melihat bahwa negara pun punya andil dalam memiskinkan rakyat dengan tidak memiliki kebijakan yang pro rakyat. “Aset produksi, sarana ekonomi, masih dikuasai sebagian kecil orang. Sementara kebijakan ekonomi justru lebih berpihak pada yang menguasai aset produksi,” sesal Budi.

Lelaki yang tengah mendalami S2 Sosiologi ini lantas mencontohkan soal Kredit Usaha Tani (KUT) yang hanya bisa diberikan pada mereka yang punya tanah. Semakin luas tanah, semakin besar kredit yang bisa didapat. Lantas, bagaimana nasib petani yang tak punya tanah? Mereka tentu tak bisa mengembangkan diri, tak bisa dapat kredit.”Maka, yang miskin akan tetap miskin, bahkan akan melahirkan generasi yang miskin pula,” tambahnya.

Soal program Bantuan Langsung Tunai (BLT) pemerintah juga dikritik Budi. Kebijakan itu disebutnya bersifat haritatif, sekadar membantu sesaat, dan tidak menolong untuk jangka panjang. “Pemerintah cuma jadi kehilatan bager (baik-red). Padahal yang namanya pemerintah mah memang sudah seharusnya bager ters,” kritiknya.

Untuk itu, Budi menyarankan agar pemerintah lebih berupaya merumuskan rencana ke-bageran yang efektif, kontinu dan berjangka panjang. Misalnya saja menggratiskan sekolah, rumah sakit, menyelenggarakan pelatihan keterampilan gratis, membuka peluang usaha atau membuka lapangan kerja padat karya. Dengan begitu, distribusi pendapatan bisa lebih merata, dan kesejahteraan masyarakat lebih mungkin diraih. “Tengok saja di negara-negara Eropa. Penduduk miskinnya sedikit, tapi yang sangat kaya juga sedikit. Secara umum, jurang distribusi pendapatan di antara mereka tidak begitu lebar.”

 

Fakir yang dekat kufur

Namun, dari sisi kemanusiaannya, tak sedikit pula masyarakat Indonesia yang terpaku dengan kemiskinan hingga bereaksi negatif. Itu sebabnya kita bisa memahami mengapa Rasulullah sedemikian mewanti kita untuk mewaspadai kemiskinan lewat pernyataan kemiskinan itu dekat pada kekufuran.

Orang miskin tentu tak lantas berarti akan menjadi kufur, tetapi kondisi miskin memang menyesakkan dada. Terutama bila kebuttuhan pokok; sandang, pangan dan papan sampai tak terpenuhi dan tekanan eksternal muncul terang-terangan. Entah itu tangis anak-anak, desakan pasangan, pandangan melecehkan lingkungan, atau pameran kekayaan dan kenikmatan duniawi yang bikin ngiler.

Sayangnya, soal kebutuhan tak terpenuhi dan pamer kekayaan adalah pandangan umum di negeri ini. Maka, orang miskin yang kecewa dengan nasib mereka, menjadi cemburu pada orang kaya dan alih-alih bangkit untuk mengatasi kemiskinan, sebagian menjadi malas dan putus asa dengan keadaan. Sebagian lagi malah memilih tak ragu melakukan kemaksiatan. Menipu, mencuri, berlaku curang hingga melakukan tindakan kriminal lainnya.

“Salah satu jalan untuk mengatasi kondisi ini adalah dengan memperbaiki faktor moril,” kata Ustadz Idris Abdussomad, MA. Caranya bisa macam-macam dan tak bisa instan. Namun hasilnya bisa efektif dan kontinyu. Dimulai dari diri sendiri, bergerak lewat para lama, maupun tokoh masyarakat pada umumnya.

Kepada pribadi-pribadi, jelas Ustadz Idris, perlu dikuatkan pemahaman bahwa miskin adalah salah satu bentuk ujian Allah, di antara ujian-ujian hidup yang Allah berikan pada manusia. Dengan kesadaran ini, diharapkan setiap individu bisa lebih siap mental menjalani kehidupan yang sulit dan lebih bisa bersabar dalam kemiskinan.

Setelah memiliki pemahaman dan kesabaran, Ustadz Idris melanjutkan, akan jauh lebih mudah bagi seseorang untuk melangkah pada poin selanjutnya berupa evaluasi diri. Orang miskin, meski bersabar, tetap perlu terus mengevaluasi diri, agar bisa melihat titik lemah untuk dihilangkan dan mencari titik kuat untuk dikembangkan.

“Poin pentingnya adalah kejujuran,” ujar ayah 6 anak ini. “Lihatlah pada diri dan perilaku diri. Apakah ada hal-hal yang telah dilakukan, yang ternyata tidak berkesesuaian dengan kehendak Allah?”

Hal ini penting dilakukan, sebab berdasarkan sebuah hadis, doa kita belum terkabul bisa dikarenakan Allah yang belum berkehendak mengabulkannya saat itu, atau karena ada hal-hal atau barang-barang yang tidak disukai Allah yang kita lakukan atau kita konsumsi.

 

Sosialisasi zakat, infak dan sedekah

Tak hanya mengacu pada masyarakat miskin, Ustaz Idris juga mengarahkan poin pentingnya mengubah pemahaman berislam, bagi orang kaya. Sebab, kemiskinan akan semakin membelit suatu masyarakat bila orang kaya di suatu negeri tak peduli pada nasib kaum dhuafa. Quran sendiri dalam surat Al-Ma’un secara tegas menyebut orang-orang yang tak peduli pada anak yatim dan untuk itu, tegas doktor lulusan Universitas Riyadh, Arab Saudi ini, soal kewajiban berzakat, dan keutamaan berinfak mesti disosialisasikan lebih luas.

Misalnya saja, disosialisasikan bahwa setiap manusia lahi pada dasarnya miskin. Tak punya apa-apa, hingga Allah memberdayakan dirinya, mungkin lewat orangtua atau orang lain. Maka, sebagai wujud syukur pada Allah, kita pun mesti membagi kenikmatan ini dengan cara memberdayakan orang lain lewat zakat, infak atau sedekah.

Tentu saja, segala proses ini akan terkait erat dengan manajemen zakat yang juga harus baik. Sehingga zakat yang diberikan pada fakir miskin, tak hanya berwujud bantuan yang langsung habis dikonsumsi melainkan bisa sebagiannya digunakan untuk keperluan produktif. “Sebab, target dari pemberian zakat adalah si miskin ini kelak bisa menjadi muzaki (pembayar zakat), bukan terus menerus menjadi mustahik (penerima zakat),” tambah Ustaz Idris.

Bila kedua pihak, kelompok miskin dan kaya, dapat memahami kondisi masing-masing dan proaktif melakukan perbaikan-perbaikan diri, tentulah kita bisa yakin bahwa awan gelap yang mengayungi masa depan masyarakat Indonesia akan segera sirna. Insya Allah. (Zirlyfera Jamil/Wawancara: Ami dan Iyas)

 

Sumber: Ummi

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s